Tulis 300 Artikel, Dosen Unisma Raih Penghargaan LPTNU Awards

Dr. Hayat, S.AP., M.Si. saat bercerita tentang penghargaan yang diterimanya. (blok-a.com / M Berril Labiq)
Dr. Hayat, S.AP., M.Si. saat bercerita tentang penghargaan yang diterimanya. (blok-a.com / M Berril Labiq)

Kota Malang, blok-a.com – Konsistensi menulis dan meneliti di bidang pelayanan publik mengantarkan Dosen Unisma, Dr. Hayat, S.AP., M.Si. meraih peringkat pertama dalam ajang LPTNU Awards 2026 pada bidang ilmu sosial. Akademisi Unisma tersebut dikenal aktif memproduksi karya ilmiah sekaligus menyebarkan gagasannya melalui berbagai platform.

Hayat menuturkan, sejak awal karier akademiknya fokus penelitian yang ia tekuni berada pada bidang sosial humaniora, khususnya pelayanan publik. Fokus tersebut kemudian menjadi arah utama dalam berbagai karya ilmiah yang dihasilkannya, mulai dari artikel, buku, hingga opini.

“Saya memang memfokuskan penelitian di bidang pelayanan publik. Artikel, opini, maupun buku yang saya tulis sekarang banyak diarahkan ke tema itu,” katanya, Kamis (19/3/2026).

Selain aktif menulis, Hayat juga memanfaatkan media sosial sebagai sarana untuk menyebarkan gagasan akademik kepada masyarakat yang lebih luas.

Ia menilai karya ilmiah tidak selalu harus disampaikan dalam bentuk tulisan panjang, tetapi juga dapat dikemas dalam bentuk video, foto, maupun konten digital lainnya.

“Sekarang karya itu tidak hanya tulisan, tapi juga bisa dalam bentuk video atau foto. Di media sosial saya mencoba menyampaikan poin-poin penting dari gagasan yang saya tulis,” ujarnya.

Melalui konsistensi tersebut, ia juga kerap dikenal publik sebagai akademisi dari Unisma yang aktif membahas isu pelayanan publik di berbagai platform digital.

Hingga saat ini, Hayat telah menulis sekitar 63 buku dan lebih dari 300 artikel ilmiah maupun opini. Dalam beberapa karya terbaru, ia juga melibatkan mahasiswa dalam proses penulisan dan penelitian.

Menurutnya, aktivitas menulis merupakan bagian penting dari kehidupan akademisi. Ia bahkan menyebut berhenti menulis justru lebih menakutkan dibandingkan kelelahan dalam proses menulis.

“Menulis itu memang melelahkan, tetapi berhenti menulis jauh lebih menakutkan, terutama bagi dosen dan akademisi,” ujarnya.

Hayat juga mengakui, penghargaan tersebut datang tanpa pemberitahuan sebelumnya. Ia baru mengetahui kabar tersebut setelah menerima pesan dari Rektor Unisma beberapa hari sebelum acara.

“Alhamdulillah saya justru terakhir yang mendapat kabar dari Pak Rektor. Sebelumnya nama saya juga belum muncul, jadi semuanya terasa seperti kejutan,” ujarnya.

Ia berharap penghargaan yang diterimanya dapat menjadi motivasi untuk terus menghasilkan karya yang bermanfaat bagi pengembangan ilmu pengetahuan sekaligus bagi masyarakat luas. (ber/bob)