BEM Malang Raya Gelar “Doa untuk Ibu Pertiwi”, Diwarnai Orasi hingga Doa Lintas Agama

BEM Malang Raya menggelar aksi “Doa untuk Ibu Pertiwi” di Alun-Alun Merdeka Kota Malang, Jumat (28/8/2026) malam. (blok-a.com / M Berril Labiq)
BEM Malang Raya menggelar aksi “Doa untuk Ibu Pertiwi” di Alun-Alun Merdeka Kota Malang, Jumat (28/8/2026) malam. (blok-a.com / M Berril Labiq)

Kota Malang, blok-a.com – Badan Eksekutif Mahasiswa (BEM) Malang Raya menggelar aksi bertajuk “Doa Untuk Ibu Pertiwi” di Alun-Alun Merdeka Kota Malang, Jumat (28/8/2026) malam. Kegiatan tersebut diisi dengan mimbar bebas, orasi, teatrikal, hingga doa bersama lintas agama sebagai bentuk refleksi mahasiswa terhadap kondisi bangsa.

Aksi mengusung tema “Membangun Ibu Pertiwi Kembali” dan “Ya Tuhan, Selamatkan Negeri Kami”. Peserta mengenakan pakaian serba hitam dan membawa sejumlah pesan terkait kondisi sosial, politik, demokrasi, serta lingkungan.

Rangkaian kegiatan diawali dengan mimbar bebas yang menjadi ruang bagi peserta menyampaikan keresahan dan pandangan mereka. Sejumlah orasi disampaikan bergantian, disusul pertunjukan teatrikal yang menggambarkan persoalan yang terjadi di masyarakat.

Selain menyuarakan kondisi bangsa, BEM Malang Raya juga membuka penggalangan dana bagi korban bencana. Dana tersebut ditujukan untuk membantu korban gempa bumi di Nusa Tenggara Timur (NTT) serta kebakaran hutan dan lahan (karhutla) di Kalimantan.

Solidaritas tersebut turut diwujudkan melalui doa bersama lintas agama. Para peserta mendoakan keselamatan bangsa sekaligus korban bencana di berbagai wilayah Indonesia.

Puncak doa bersama berlangsung dengan suasana khidmat. Para peserta menyanyikan lagu “Tanah Airku” bersama-sama sebelum melanjutkan doa untuk Indonesia dan masyarakat yang terdampak bencana.

Koordinator Lapangan (Korlap) Aksi BEM Malang Raya, Rein Marung mengatakan, kegiatan tersebut digelar sebagai ruang refleksi sekaligus mengajak masyarakat menjaga nalar kritis terhadap kondisi Indonesia saat ini.

“Tujuan aksi kami tidak lain untuk mengingatkan atau bahan refleksi kami. Sebagaimana kita tahu kondisi negara per hari sekarang masih sangat buruk,” ujar Rein.

Menurutnya, doa untuk Ibu Pertiwi menjadi simbol keresahan mahasiswa terhadap berbagai persoalan yang terjadi, termasuk kerusakan alam dan kondisi sosial masyarakat.

“Kami membawa simbolik doa bersama untuk Ibu Pertiwi, untuk menyuarakan hati dan kesedihan kami terhadap kondisi negara sekarang. Banyak kerusakan alam, banyak kejadian-kejadian di negeri kita yang perlu kita perhatikan bersama,” katanya.

Dalam aksi tersebut, BEM Malang Raya juga menyampaikan empat tuntutan, yakni:

1. Memberantas korupsi tanpa pandang bulu.
2. Melakukan evaluasi total terhadap pelaksanaan program Makan Bergizi Gratis (MBG).
3. Menghentikan pembungkaman demokrasi.
4. Menanggapi bencana ekologis secara tegas dan serius.

Selain empat tuntutan tersebut, BEM Malang Raya turut menyoroti pembahasan Rancangan Undang-Undang (RUU) Perampasan Aset. Rein menyatakan pihaknya mendukung pengesahan regulasi tersebut dan meminta prosesnya segera dituntaskan.

“Kami sangat setuju kalau RUU Perampasan Aset itu disahkan. Intinya, RUU Perampasan Aset harus tetap disahkan dalam waktu secepatnya,” tegasnya.

Ia menilai pengesahan RUU Perampasan Aset penting untuk memperkuat pemberantasan korupsi, terutama dalam upaya merampas aset yang diperoleh dari hasil tindak pidana.

“Pelaku korupsi di Indonesia harus ditindak tegas dengan merampas aset-aset yang mereka curi. Supaya nanti menjadi bahan pelajaran untuk penerus-penerusnya,” pungkas Rein. (ber)

Redaktur pelaksana sekaligus Jurnalis blok-a.com yang memfokuskan liputan pada isu sosial, politik, dan peristiwa terkini di Malang Raya.
Jurnalis sekaligus videographer Blok-a.com yang memfokuskan liputan pada isu pemerintahan, paeristiwa, kriminal dan pendidikan di Malang Raya.