Polresta Malang Kota Respons Ramainya Laporan Begal Melalui Medsos, Bentuk Tim Khusus dan Temui Pihak yang Mengaku Korban

Kapolresta Malang Kota Ajak Masyarakat Laporkan Polisi yang Tidak Netral di Pemilu 2024 ke Dirinya
Kapolresta Malang Kota, Kombes Pol Budi Hermanto saat diwawancara (blok-a/Bob Bimantara Leander)

Kota Malang, blok-a.com – Polresta Malang Kota membentuk tim khusus untuk mengusut laporan dugaan begal melalui media sosial yang ramai akhir-akhir ini di Kota Malang.

Laporan aksi begal itu berada di Sawojajar, dekat SMA Cor Jesu, dan daerah Masjid Sabililah Kota Malang. Meskipun belum ada korban melapor, polisi bergerak cepat untuk mengusut laporan masyarakat di media sosial itu.

Kepolisian mengakui bahwa mereka telah menemui beberapa korban yang diduga terlibat dalam aksi begal. Menurut Kapolresta Malang Kota Kombes pol Budi Hermanto, sudah ada dua terduga korban yang ditemui dan polisi masih sedang dalam proses menghubungi korban ketiga.

“Ada yang diduga korban, di Cor Jesu sudah kita temui, kita akan mendalami. Terus yang kedua diduga korban yang di Sawojajar itu juga nanti janjian di hari Jumat, nah yang Sabilillah belum,” jelasnya.

Upaya penanggulangan tidak hanya melibatkan kepolisian, tetapi juga melibatkan kolaborasi dengan masyarakat dan media sosial. Polisi telah melakukan profiling terhadap beberapa individu yang diduga sebagai pelaku begal, dengan mempertimbangkan informasi dari korban.

“Jujur kami sampaikan kami sudah memprofiling beberapa orang pelaku, tapi harus match antara ciri-ciri yang disampaikan korban terhadap pelaku yang melakukan,” ungkap perwira polisi yang akrab disapa Buher tersebut.

“Kepolisian, TNI, bersama seluruh komunitas peduli Malang Raya terhadap situasi kamtibmas pasti akan terus bekerja, ingat kita tidak akan pernah lelah memberikan rasa aman, nyaman di wilayah Kota Malang,” tegas Budi Hermanto.

Dalam upaya menciptakan lingkungan yang kondusif, kepolisian juga berkoordinasi dengan admin-admin media sosial. Selain itu, polisi menjelaskan bahwa beberapa titik yang menjadi lokasi kejadian sudah tercover oleh CCTV, dan mereka bekerja sama dengan Kominfo untuk mendapatkan informasi lebih lanjut terkait kasus yang ramai diperbincangkan ini.

“Beberapa titik itu tercover oleh CCTV, kami juga berkoordinasi dengan Kominfo, nah harus kita olah, kita juga punya proses lain dalam penyelidikan, tidak hanya dengan CCTV, makanya yang paling utama itu adalah korban,” pungkasnya. (mg3/bob)