Paslon SaLaf Targetkan 65 Persen Suara untuk Kemenangan Pilbup Malang 2024

Tim 9 Sanusi, Ahmad Kusaeri saat ditemui awakmedia (blok-a.com/ Putu Ayu Pratama S)
Tim 9 Sanusi, Ahmad Kusaeri saat ditemui awakmedia (blok-a.com/ Putu Ayu Pratama S)

 

Kabupaten Malang, blok-a.com – Pasangan calon (Paslon) bupati dan calon wakil bupati, Sanusi – Lathifah Shohib atau SaLaf targetkan kemenangan 65 persen di Pemilihan Bupati (Pilbup) Malang 2024 mendatang.

Paslon itu sendiri ke KPU Kabupaten Malang pada hari kedua pendaftaran, Rabu (28/8/2024) ) untuk mendaftar maju Pilbup Malang 27 November 2024 mendatang.

Melalui Juru Biacara Tim 9 Sanusi, Ahmad Kusaeri menyebutkan, Paslon SaLaf berhasil memperoleh dukungan penuh dari koalisi gemuk.

Sejumlah partai pengusung SaLaf, diantaranya yakni PDIP dengan 13 kursi di parlemen, PKB 11 kursi, Gerindra 8 kursi, NasDem 6 kursi dan 7 partai pendukung diantaranya PPP, PAN, Partai Gelora, Perindo, PSI, Partai UMMAT dan PBB.

“Kita sudah koalisi gemuk, partai-partai sudah menyebar, kita bekerjasama. Sehingga kita banyak ide, banyak inisiasi itu yang memudahkan buat kita mendapatkan strategi kemenangan,” kata Kusaeri saat ditemui di KPU Kabupaten Malang, Rabu (28/8/2024).

Berbekal koalisi gemuk, kata Kusaeri, kemenangan Paslon SaLaf di Pilbup Malang 2024 berpotensi besar untuk terealisasi. Bahkan, ia manargetkan kemenangan yang cukup tinggi.

“Target kemenangan 65 persen. Tapi belum tau lagi, karena kami akan menghitung ulang rencana-renacana setelah hari ini resmi daftar dengan diusung banyak partai,” jelasnya.

Sementara itu, saat disinggung terkait petarung yang juga merupakan kader PDI Perjuangan, Kusaeri menyebut itu bukan merupakan sebuah tantangan bagi pasangan SaLaf.

Sebab, menurutnya rekom partai banteng moncong putih itu telah menjawab pertanyaan yang ada. Sehingga, kader yang berhasil mendapat rekomendasi untuk maju Pilbup Malang, maka itu yang akan bertahan menjadi kader perjuangan.

“Keduanya memang kader PDI Perjuangan, tapi setelah nanti ditetapkan menjadi calon kepada daerah maka yang mendapat rekom itulah yang tetap tinggal sebagai kader perjuangan. Sementara yang tidak mendapatkan rekom, saya kira logikanya itu bukan lagi kader PDIP. Tapi itu tergantung keputusan partai,” pungkasnya. (ptu/bob)