Kabupaten Malang, blok-a.com – Nama Wisata Wendit yang kini dikenal sebagai salah satu destinasi legendaris di Kabupaten Malang ternyata menyimpan jejak sejarah panjang. Bahkan, perbedaan soal penyebutan “Wendit” atau “Mendit” masih kerap muncul hingga sekarang.
Sejarawan Dwi Cahyono mengatakan, secara historis penyebutan yang lebih tua adalah “Wendit” dengan huruf awal “W”, bukan “Mendit”. Hal itu didasari dengan istilah penasalan yang melekat di lidah masyarakat waktu itu.
“Nama mana yang lebih awal? Yang lebih tua itu Wendit, pakai ‘W’. Mendit itu sebutan yang lebih medhok. Dalam linguistik Jawa ada istilah penasalan, yaitu penambahan huruf nasal seperti M, N, NG, atau NY di awal kata,” ujar Dwi Cahyono kepada blok-a.com, Kamis (12/2/2026).
Ia mencontohkan perubahan bunyi dalam bahasa Jawa seperti “boten” menjadi “mboten” atau “endas” yang sering disebut “ndas”. Menurutnya, proses serupa terjadi pada Wendit.
“Jadi nama dasarnya itu Wendit. Kemudian mengalami penasalan, ditambah ‘M’ di depan, sementara huruf ‘W’-nya lesap atau hilang, sehingga menjadi Mendit. Tapi yang asli itu Wendit,” jelasnya.
Menurut Dwi Cahyono, pembahasan asal-usul Wendit tak bisa dilepaskan dari nama Walandit, sebuah kawasan kuno yang disebut dalam Prasasti Muncang dari era Mpu Sindok, sekitar tahun 930-an Masehi.
Dalam prasasti tersebut, disebutkan adanya bangunan suci yang berada di Walandit, yang merupakan anak wanua (anak desa) dari Wanua Muncang.
“Dalam istilah Jawa Kuno, desa itu disebut wanua. Jadi Wanua Muncang itu Desa Muncang. Nah, anak wanua dari Muncang itu namanya Walandit. Itu disebut jelas di dalam Prasasti Muncang,” terang Dwi.
Nama Walandit juga muncul dalam kitab Tantu Panggelaran, karya sastra era akhir Majapahit. Dalam kitab tersebut disebut adanya bukit suci bernama Walandita.
“Kata Walandita itu kemudian huruf ‘A’-nya lesap menjadi Walandit. Kebiasaan dalam bahasa Jawa Kuno, huruf ‘A’ di akhir sering tidak dibaca,” bebernya.
Secara geografis, lokasi Walandit (kini dikenal sebagai Blandit, Desa Wonorejo, Kecamatan Singosari) berjarak sekitar 5–6 kilometer dari Wendit. Hal ini memunculkan pendapat Wendit kemungkinan dahulu termasuk kawasan Walandit.
“Karena jaraknya dekat sekali, ada pendapat bahwa di masa awal, Wendit masuk dalam wilayah Walandit,” imbuhnya.
Dwi juga menyoroti keterkaitan sumber air Wendit dengan Bukit Walandhita yang disebut sebagai gunung suci dalam Tantu Panggelaran.
Menurutnya, tradisi masyarakat Tengger menjadi salah satu petunjuk historis penting. Setiap menjelang upacara Karo, masyarakat Tengger dari wilayah Malang dan Pasuruan mengambil air suci dari Wendit.
“Orang-orang Tengger itu kalau ritual Karo atau Kasada, air sucinya diambil dari Wendit. Karena kesejarahan Tengger juga disebut dalam Prasasti Muncang,” katanya.
Air di Wendit diyakini sebagai tirta atau air suci. Bahkan Telaga Wendit diposisikan sebagai patirtaan atau tempat pemandian suci. Ia berpendapat sumber air Wendit itu berkaitan dengan Bukit Walandit yang dianggap gunung suci
“Kalau melihat tradisi ini, sangat mungkin,” tutur Dwi.
Secara hidrologi, mata air dari wilayah Blandit mengalir melalui jalur sungai bawah tanah, bermuara ke Kalisari, lalu bergabung ke Kali Bango sebelum akhirnya menuju Sungai Brantas.
Meski demikian, terdapat pendapat berbeda yang menyebut Wendit bukan bagian dari Walandit. Dwi menjelaskan adanya Prasasti Balingawan dari masa Raja Daksha (Kerajaan Mataram Kuno) sekitar tahun 911 Masehi, yang menyebut desa kuno bernama Balingawan—kini dikenal sebagai Mangliawan.
“Berdasarkan Prasasti Balingawan, Wendit itu masuk wilayah desa kuno Balingawan yang sekarang berubah menjadi Mangliawan. Jadi bukan bagian dari Walandit,” ujarnya.
Dengan demikian, terdapat dua pandangan besar mengenai posisi historis Wendit, apakah bagian dari kawasan Walandit yang sakral, atau masuk wilayah desa kuno Balingawan.
“Jadi kembali ke situ, bagaimana posisi Wendit di masa lalu. Ada dua pendapat dengan dasar prasasti yang sama-sama kuat,” pungkas Dwi. (yog/bob)








