Disebut Mirip Milik Kedai Bubur, Gaya Tulisan di Signage ‘Kayutangan’ Ini Dianggap Lebih Cocok

Tulisan 'Kayutangan' Disebut Mirip Milik Kedai Bubur, Signage Ini Dianggap Lebih Cocok
Tulisan 'Kayutangan' Disebut Mirip Milik Kedai Bubur, Signage Ini Dianggap Lebih Cocok

Kota Malang, blok-a.com – Pembangunan median jalan di Kayutangan kembali menuai reaksi dari netizen Kota Malang. Kali ini bukan tentang fungsionalitasnya, tapi tentang gaya tulisan di signage Kayutangan Heritage yang dinilai mirip dengan gaya tulisan di signage kedai bubur.

Tentu hal ini membuat para praktisi desain visual di Kota Malang ‘gatal’, karena gaya tulisan di signage tersebut dinilai sebagai sebuah blunder dalam hal desain. Selain tidak mencerminkan warisan budaya yang ada di daerah tersebut, gaya tulisan di signage itu juga sudah melekat ke masyarakat sebagai milik kedai bubur yang bertebaran di seluruh Kota Malang.

“Tulisannya Kayutangan Heritage, tapi dari bentuknya saja tidak mencerminkan heritage. Warnanya juga blunder, orang-orang sudah terlanjur mengasosiasikan dengan kedai bubur Kayungyun,” terang Dimas Fakhrudin, Ketua Asosiasi Desainer Grafis chapter Kota Malang.

“Jadi font yang dipakai itu Bauhaus, sudah open source jadi gratis dipakai seperti di Microsoft Word itu,” tambah Dosen Vokasi Desain Universitas Brawijaya itu saat diwawancara Blok-A pada Selasa (12/12/2023).

Karena ‘gatal’ dengan blunder visual tersebut, Dimas mengaku mencoba membuat desain saingan menggunakan font kreasinya sendiri yang bernama Neo Jengki. Desain itu ia unggah di akun Instagram miliknya @dimazfakhr_ dan mendapatkan ribuan tanggapan positif.

Tulisan 'Kayutangan' Disebut Mirip Milik Kedai Bubur, Signage Ini Dianggap Lebih Cocok
Editan Signage Kayutangan gunakan Font Neo Jengki

“Yang nge-like 1.300an, padahal postingan saya yang lain biasanya Cuma 200an. Ini juga sudah sampai 10 ribuan reach,” ujarnya.

Font Neo Jengki sendiri adalah kreasi Dimas yang ia buat berdasarkan riset mendalam tentang warisan budaya di Kayutangan. “Ini hasil riset saya terhadap rumah-rumah jengki Malang yang ada di Kayutangan, juga terhadap signage-signage lawas daerah pertokoan di sekitarnya,” terangnya.

Dengan karakter yang dinilai oleh netizen lebih mencerminkan heritage daerah Kayutangan, netizen pun banyak yang lebih mendukung penggunaan font Neo Jengki sebagai signage.

“Harus e iki, gahabis pikir sing nggawe singage model KAYUNGYUN! Ra mashyok… ayo kene sng nggawe design e hadepno aku,” tulis akun @wa_santoso di kolom komentar postingan Dimas.

Kesan nostalgia yang dimiliki Neo Jengki juga disebut lebih pas jika diintegrasikan dengan Kayutangan Heritage, seperti komentar akun @arifin_sham: “Lha iyo ya, kenopo gk nggawe #neojengki ae ya mas? lebih Malang. lebih vibes nostalgic.”

Menanggapi hal tersebut, Dimas menilai penggantian total signage adalah langkah yang tepat. “Jika bisa diganti total sih, karena secara visual juga tidak bagus. Apalagi warnanya, mungkin cenderung ke hijau yang juga mencerminkan kondisi geografis Kota Malang,” ujarnya.