Cerita Warga Soal PKL di Trotoar Kayutangan Heritage, Ternyata Ada Lapak yang Diperjualbelikan

Pasca Sosialisasi Penertiban, Kini Trotoar di Kayutangan Heritage Bersih dari PKL
Trotoar di koridor Kayutangan Heritage nampak lengang tidak ada PKL, Rabu (28/2/2024) malam kemarin (blok-a/Satria Akbar Sigit)

Kota Malang, blok-a.com – Pemkot Malang telah resmi melarang seluruh kegiatan pedagang kaki lima (PKL) di trotoar Kayutangan Heritage. Ternyata langkah sterilisasi PKL ini didukung oleh warga lokal kawasan Kayutangan.

Hal ini tak lepas dari berbagai masalah yang meliputi kegiatan di wilayah Kayutangan Heritage sebelum para PKL tersebut ditertibkan. Apalagi, para pedagang kaki lima dulunya seperti dibebaskan melakukan apa saja tanpa adanya kontrol.

Dari pengakuan Handoko dan Waroah, warga kampung Kayutangan, sebenarnya warga memang sudah kesal dengan perilaku para pedagang kaki lima itu.

“Tapi warga sendiri mau melarang juga tidak bisa, soalnya terlalu banyak orangnya,” tutur Waroah.

Kedua warga tersebut mengatakan bahwa para pedagang kaki lima yang menjadi sasaran penertiban oleh Pemkot Malang rata-rata berasal dari luar daerah. Yang menjadi perhatian warga, cara berjualan mereka disebut ‘ngawur’.

“Ngawur, Mas. Sudah tidak menunjukkan kesan damai seperti di Malioboro Jogja gara-gara mereka. Contohnya separuh trotoar ini digelari tikar buat jualan. Bahkan ada juga yang gelar dagangan di depan toko,” kata Handoko.

Masalah lain yang dipermasalahkan adalah tindakan kurang pantas yang dilakukan muda-mudi yang ngopi di warung kopi dadakan para PKL.

“Itu warungnya bisa buka sampai jam 2, jam 3. Itu cewek-cowok ngumpul di situ, rokokan sama mesra-mesraan. Sekarang sudah gak bisa gara-gara penertiban itu,” tambah Handoko.

Ada juga masalah copet yang beberapa saat lalu ramai diperbincangkan warga. Karena kawasan tersebut ramai pejalan kaki, sementara luas trotoarnya dipersempit dengan gelaran dagangan para PKL, sempat ada komplotan copet yang memanfaatkan momen berdesakan tersebut.

“Kan yang jalan ramai, Mas. Terus ini (trotoar) Cuma separuh. Otomatis desak-desakan. Lha kok kita dapat kabar ada orang-orang itu dicopet. Wis, resah, Mas,” tutur Waroah.

Kini, trotoar sepanjang Kayutangan Heritage sudah dapat dimanfaatkan seluruhnya oleh pejalan kaki tanpa lagi harus berdesak-desakan.

Ada lagi satu masalah yang menimbulkan keresahan warga, yaitu lapak yang diperjualbelikan. Lapak yang diperjualbelikan di sini bukanlah lapak resmi atau kedai, tapi sebuah area di trotoar Kayutangan Heritage.

“Jual lapak, Mas. Jadi dia tidak berjualan, tapi petak di trotoar itu dia jual ke pedagang yang dari luar (daerah). ‘Kamu mau apa tidak jualan di sini’, nanti yang jualan itu setoran. Padahal dia sendiri tidak jualan,” terang Waroah.

Sekarang, dengan pelarangan resmi dari Pemkot Malang untuk para PKL berjualan di area Kayutangan Heritage, masalah-masalah yang disebutkan di atas telah banyak teratasi.

Oleh karena itu, beberapa warga kampung Kayutangan yang diwawancara oleh Blok-A.com mengaku mendukung langkah Pemkot Malang tersebut.

“Mendukung. Warga mendukung, karena sekarang sudah terbukti lebih bagus, lebih aman, nyaman,” ujar Handoko.