Hadirnya Pasar Takjil Jalan Surabaya Kota Malang Tak Selalu Membawa Rezeki

Hadirnya Pasar Takjil Jalan Surabaya Kota Malang Tak Selalu Membawa Rezeki
Hadirnya Pasar Takjil Jalan Surabaya Kota Malang Tak Selalu Membawa Rezeki

Kota Malang, blok-a.com – Pasar Takjil Jalan Surabaya adalah salah satu pasar takjil teramai di Kota Malang, baik secara kuantitas pengunjung dan variasi pedagang yang menjajakan takjil mereka.

Karenanya, pasar takjil di Jalan Surabaya ini pun menjadi salah satu pemutar roda ekonomi di masa Ramadan. Ratusan pedagang ‘dadakan’ bermunculan di sepanjang Jalan Surabaya setiap harinya menjelang berbuka puasa setiap tahun.

Iming-iming aliran rupiah untuk persiapan lebaran menjadi daya tarik banyaknya masyarakat yang inign membuka lapak di pasar takjil itu.

Harapan tentang aliran rupiah itu tak hanya menghinggapi para pedagang ‘dadakan’ tersebut. Para pedagang lama, yang sudah melapak di Jalan Surabaya setiap harinya selain bulan Ramadan juga berharap rejeki yang sama.

Salah satunya adalah Ayu, warga Klayatan Gang III, pemilik kedai Pecel Madiun Plat AE Sangrai yang bertempat di halaman Kosabra Jalan Surabaya.

“Kami sudah setahun lebih buka lapak di sini. Kalau selain bulan Ramadan kita buka sejak jam 7 pagi, tapi selama Ramadan kita buka mulai jam 3 sampai hampir tarawih,” kata Ayu.

Ayu setiap harinya menjaga warung pecel andalannya dengan suaminya, Ade. Mereka mengakui bahwa lautan manusia yang memadati Jalan Surabaya setiap sorenya memang mendatangkan rejeki tersendiri untuk warung mereka.

Namun, persaingan bisnis yang lebih ketat dengan para pedagang takjil ternyata tak selamanya dirasa indah untuk pasangan itu. Posisi kedainya yang berada sedikit di belakang trotoar membuat kedainya tertutup oleh beberapa lapak takjil yang berada lebih ke pinggir jalan.

“Lapak kami tertutup pedagang yang ada di depan. Dulu awal-awal benar-benar tertutup, lalu kita sampaikan permintaan supaya diberi jalan buat masuk ke Kecamatan Klojen ini, terus dibuka jalan keccil itu, Cuma muat buat satu orang,” terang Ade.

Saat ditanya mengapa mereka tidak menyewa lapak takjil yang berada lebih dekat ke jalan, Ade mengatakan bahwa mereka tidak memenuhi syarat.

“Syaratnya katanya harus dari masyarakat sekitar sini, sekitar Klojen,” kata Ade.

Hal ini yang kemudian ia rasa sedikit aneh, karena dari yang ia dengar dan saksikan, ada beberapa pedagang dari kecamatan lain yang juga mencari rejeki di pasar takjil itu.

“Ada beberapa orang yang saya tahu itu dari daerah rampal sana, padahal katanya Cuma buat warga sekitar. Saya tanya katanya bayar Rp 300 apa 500 ribu, tapi saya kurang tahu bayarnya ke siapa,” kata Ade.

Ia pun berceletuk jika syaratnya hanya membayar sejumlah uang, ia bersedia menyewa dua lapak sekaligus untuk kedainya.

“Kalau Cuma bayar segitu, saya juga mau. Dua sekaligus buat warung saya,” tuturnya. (art/bob)