Kota Malang, blok-a.com – Tuberkulosis atau TBC adalah penyakit menular paling mematikan kedua setelah Covid-19 di negara ini. Di Kota Malang sendiri, masih banyak ditemukan pengidap TBC. Tercatat ditemukan lebih dari 200 kasus terduga TBC di Kota Malang hingga April 2024 ini, walau jumlah kasus positif hanya di bawah 5 persen angka itu.
Untuk meningkatkan kesadaran masyarakat terhadap penyakit ini, Dinas Kesehatan Kota Malang menggelar Gerakan Indonesia Akhiri Tuberkulosis di CFD Jalan Ijen untuk mengenalkan TOSS TBC, tepatnya di samping Perpustakaan Kota Malang, pada hari Minggu (28/4/2024).
“Kita sudah mengetahui ada 269 terduga, dan memang dari situ yang memang positif hanya di bawah 5 persen dan sudah ditangani. Ada dua yang meninggal,” terang Pj Walikota Malang Wahyu Hidayat di sela acara tersebut.
Wahyu menerangkan kegiatan ini adalah untuk meningkatkan kesadaran masyarakat terhadap TBC dan mendorong penanggulangannya.
“Kesempatan ini adalah kesempatan berkampanye dengan menyebarluaskan informasi terkait TBC serta mendorong semua pihak untuk menanggulangi TBC. Pemberantasan TBC ini penting karena memang penyakit kedua dengan tingkat fatalitas tertinggi setelah Covid-19. Makanya dengan ini ada gerakan TOSS TBC, yaitu temukan, obati, sampai selesai,” ungkap Wahyu.
Sejumlah kegiatan dilaksanakan dalam acara yang sekaligus memperingati hari asthma sedunia ini. Mulai dari senam pagi yang diikuti ratusan peserta, penyerahan penghargaan kepada puskkesmas dan daerah-daerah yang berhasil memberantas TBC serta launching aplikasi DSS TBC.
Kecamatan Sukun mendapatkan penghargaan sebagai Kecamatan Terbaik dalam Mendukung Pelayanan TB di Kota Malang tahun 2023. Penghargaan juga diberikan kepada Puskesmas Kendalkerep, Puskesmas Ciptomulyo, RW 06 Jodipan, RW 05 Kebonsari, dan RW 02 Bumiayu atas capaian dan inisiatif mereka memerangi penyakit ini.
“Penghargaan-penghargaan tadi, berkat kerja sama yang baik dari seluruh perangkat. Hingga tingkat RW itu memang yang nol TBC,” ujar Wahyu.
Kota Malang sendiri menargetkan angka penderita TBC untuk terus turun hingga 6 orang per 100 ribu penduduk di Tahun 2030, bahkan lebih rendah dari angka itu.
“Dari 100 ribu, targetnya itu maksimal 6, jadi tidak boleh lebih. Lebih sedikit lebih baik,” ungkap Wahyu. (art/bob)







