Perpaduan Tradisi dan Inovasi Kuliner Legendaris Kota Malang di Rujak Pojok

Perpaduan Tradisi dan Inovasi Kuliner Legendaris Kota Malang di Rujak Pojok
Perpaduan Tradisi dan Inovasi Kuliner Legendaris Kota Malang di Rujak Pojok

Kota Malang, blok-a.com – Pecinta rujak di Kota Malang pasti sudah tidak asing lagi dengan nama Rujak Pojok. Warung ini didirikan pada tahun 1951 oleh pasangan ekspatriat Tiongkok, Then Pian Shen dan Oe Tjie Ie. Karenanya, warung ini telah menjadi saksi bisu perjalanan kuliner kota Malang selama lebih dari 7 dekade.

Awalnya, Shen dan Ie berjualan rujak di kawasan Oro-oro Dowo. Pada tahun 1963, mereka pindah ke Jalan Pajajaran dekat Stasiun Kota Malang dan menamai warungnya Rujak Pojok. Cita rasa rujak Pojok yang khas dan lezat dengan bumbu petis udang yang gurih quickly menarik perhatian para pecinta kuliner.

Resep rujak Pojok yang istimewa ini telah diturunkan dari generasi ke generasi. Hingga saat ini, pengelola warung yang sudah memasuki generasi keempat masih menggunakan resep tradisional yang sama dengan yang digunakan oleh eyang buyutnya. Petis yang digunakan masih sama seperti yang dipakai eyang buyutnya yang didapat dari Sidoarjo.

Seporsi rujak cingur lengkap di Rujak Pojok disajikan dengan lontong, bengkuang, sayur, irisan tempe dan tahu, serta cingur yang empuk dan gurih. Pengunjung dapat memilih tingkat kepedasan sesuai selera. Perpaduan rasa pedas, manis, dan gurih dari bumbu petis udang Rujak Pojok menjadikannya hidangan yang tak terlupakan.

Seiring perkembangan zaman, Rujak Pojok tak hanya menyajikan menu rujak cingur. Untuk menarik minat pelanggan, ada juga menu lain seperti rujak lontong cap gomeh, soto, bakso, dan ayam krispi. Tak hanya itu, Rujak Pojok juga bekerja sama dengan Gojek untuk melayani pemesanan online. Inovasi ini terbukti ampuh dalam meningkatkan penjualan, terutama di era digital ini.

Usaha untuk menjaga tradisi dan berinovasi membuahkan hasil. Saat ini, Rujak Pojok mampu menjual 50-75 porsi pada hari biasa dan hingga tiga kali lipat pada musim libur. Pendapatan kotornya pun mencapai Rp 90 juta per bulan.

Melihat antusiasme pelanggan, terutama para pemuda yang menjadikan Rujak Pojok sebagai tempat tongkrongan, pemilik pun berencana untuk memperpanjang jam buka warung hingga dini hari dan menambahkan menu nasi goreng.