Kabupaten Malang, blok-a.com – Meski hingga kini tidak ditemukan kasus keracunan makanan dalam program Makan Bergizi Gratis (MBG) di Kabupaten Malang, Dinas Ketahanan Pangan (DKP) tetap memperketat pengawasan. Hal ini dilakukan menyusul adanya kasus keracunan siswa di beberapa daerah lain.
Kepala DKP Kabupaten Malang, Mahila Surya Dewi, menegaskan bahwa keracunan makanan tidak bisa hanya dilihat dari kualitas bahan pangan. Menurutnya, ada banyak faktor lain yang turut berpengaruh.
“Keracunan itu tidak hanya dari produk kualitasnya yang kurang bagus, tapi harus dilihat dari hilir dan hulunya dulu. Hulunya sampai di sekolah ya, jadi dari hilir itu kualitas,” kata Mahila, Rabu (1/10/2025).
Mahila menjelaskan, “hilir” yang dimaksud mencakup pemilihan bahan mentah yang berkualitas, kemudian dilanjutkan dengan proses pencucian menggunakan air mengalir yang sudah memenuhi syarat kesehatan.
“Bahannya harus bagus, habis itu masuk ke pencucian. Air yang dipakai harus mengalir, sudah diuji dan bersertifikat layak konsumsi. Begitu pula saat pengolahan harus steril dan bebas bakteri,” tambahnya.
Selain bahan dan proses, alat makan juga menjadi perhatian. Ia mengingatkan bahwa penggunaan wadah dari bahan alumunium atau logam untuk menyimpan makanan panas justru bisa membuat hidangan cepat basi.
Lebih jauh, Mahila menilai edukasi kepada siswa sama pentingnya dengan menjaga kualitas pangan. Ia menekankan pentingnya kebiasaan mencuci tangan sebelum makan.
“Anak-anak harus diedukasi untuk cuci tangan dulu sebelum makan. Takutnya, makanannya sudah steril, tapi kalau anak-anak tidak cuci tangan, itu bisa jadi pemicu keracunan juga. Makanan wajib dihabiskan di sekolah, jangan dibawa pulang, karena rentan teroksidasi,” pungkasnya.
Dengan pengawasan menyeluruh dari hulu hingga hilir, serta kebiasaan hidup bersih di sekolah, DKP Kabupaten Malang optimistis program makan bergizi gratis dapat berjalan aman, sehat, dan memberi manfaat maksimal bagi siswa. (yog/bob)








