Malang, Blok-a.com – Ada sebuah frasa yang sering muncul setiap musim Lebaran tiba, “Malang tinggal pemain inti.” Istilah ini menggambarkan suasana kota yang mendadak lebih lapang. Salah satunya karena banyak pendatang yang mudik, menyisakan warga lokal menikmati wilayah mereka sendiri.
Namun, bagi sebagian orang, menjadi “pemain inti” di tengah kota yang sedang “liburan kompetisi” justru memberi rasa hambar, kalau bukan pahit. Jalanan memang longgar dan minim kebisingan, tetapi ekonomi justru menyempit. Kemacetan tidak terlihat, pun dengan hiruk pikuk pembeli yang juga tidak tampak.
Bagi warga yang menggantungkan hidup dari para pendatang, khususnya mahasiswa, istilah “kembali ke pemain inti” merupakan sinyal bahaya bagi kantong mereka. Dengan pulang kampungnya mahasiswa yang menjadi sumber penghasilan, para pedagang ini mendadak kehilangan “lawan tanding” mereka.
Di kawasan Merjosari, sekitar Taman Singha, Pak Boboh (36), lebih banyak menghabiskan waktu duduk diam di dekat gerobak dagangannya. Hanya sesekali membersihkan gerobaknya yang sebenarnya sudah bersih, hanya untuk sejenak mengusir kebosanan.
“Aduh, mbak. Kalau mahasiswa sudah pada pulang kampung itu rasanya langsung mak tratap (kaget). Penghasilan saya terjun bebas kalau dibanding hari biasa,” ungkap penjual pentol kuah ini saat ditemui, Selasa (17/3/2026) malam.
Ini tidak mengherankan mengingat pelanggan utama Pak Boboh kebanyakan adalah para mahasiswa. Ketika sebagian besar mahasiswa pulang ke kampung halaman menjelang Idulfitri, tentu Pak Boboh kehilangan sumber pendapatan utamanya.
“Memang napas jualan saya ini dari anak-anak kuliahan itu. Kalau mereka nggak ada, ya saya cuma bisa mengandalkan warga sekitar atau orang lewat yang jumlahnya tidak seberapa,” tambahnya.
Kondisi ini membuat Pak Boboh harus lebih hemat dan sabar dalam mengelola modal dagangnya agar bisa bertahan hingga liburan usai.
Hal serupa juga dialami Eky (36), warga asli Malang yang berjualan kopi motor di bahu Jalan Veteran. Dirinya tidak menyangkal bahwa Kota Malang berangsur sepi karena mahasiswa pendatang banyak yang mudik.

“Suasananya sekarang jadi sepi ya. Mahasiswa sudah banyak yang libur dan pulang kampung, meskipun masih ada beberapa yang belum pulang dan tetap di Malang,” ujar Eky saat ditemui di sela-sela aktivitasnya, Senin (16/3/2026).
Jika biasanya Eky melayani pelanggan yang duduk santai hingga larut malam, ia harus lebih sabar selama beberapa hari di momen libur Lebaran. Tentunya, karena dia harus merelakan turunnya jumlah pendapatan harian.
“Kalau ditanya pendapatan, ya ada sedikit penurunan, apalagi suasananya mendung terus sekarang. Agak sepi memang kalau dibandingkan hari biasa, tapi ya masih aman lah,” tambahnya.
Meski demikian, sebagai ikhtiarnya dalam mencari nafkah, Eky berencana tetap berjualan hingga malam takbiran. Ia baru libur tepat di hari raya nanti untuk berkumpul dengan keluarga.
“Sekarang sih masih jualan, belum tutup. Rencananya pas hari Lebaran nanti kami tutup dulu sekitar empat hari untuk liburan, setelah itu baru jualan lagi seperti biasa di sini,” kata Eky.
Baginya, Lebaran kali ini akan dirayakan dengan cara sederhana seperti biasanya. Sebagai warga lokal atau “pemain inti”, ia memilih untuk tetap berada di Malang dan menikmati waktu bersama orang-orang terdekat.
“Enggak ada yang khusus sih, cuma kumpul keluarga yang ada di Malang dan dekat-dekat sini saja. Paling ya kumpul sama teman-teman juga, sudah itu saja,” pungkasnya. (mg1/mg2/ova)








