Kota Malang, blok-a.com – Upaya penanganan banjir di Kota Malang mulai menunjukkan hasil pada 2026. Meski genangan masih terjadi saat hujan dengan intensitas tinggi, dampaknya kini tidak separah sebelumnya. Air yang menggenang di sejumlah titik dilaporkan lebih cepat surut.
Pemerintah Kota Malang melalui Dinas Pekerjaan Umum, Penataan Ruang, Perumahan dan Kawasan Permukiman (DPUPRPKP) terus memperkuat penanganan banjir secara bertahap. Langkah yang dilakukan difokuskan pada pembenahan sistem drainase dan normalisasi saluran di wilayah rawan genangan.
Kepala DPUPRPKP Kota Malang, Dandung Djulharjanto, mengatakan bahwa penanganan banjir saat ini mengacu pada masterplan drainase yang telah disusun. Program tersebut dijalankan secara berkelanjutan, bukan hanya penanganan sesaat.
Menurutnya, ada tiga fokus utama dalam upaya tersebut. Yakni pengerukan sedimen yang menyebabkan pendangkalan, peningkatan kapasitas saluran air, serta pemeliharaan rutin infrastruktur pengendali banjir.
“Penanganan kita bertahap. Pertama normalisasi melalui pengerukan sedimen, kedua peningkatan saluran, dan ketiga pemeliharaan rutin,” jelasnya.
Ia mengakui, banjir atau genangan memang belum sepenuhnya hilang. Namun, indikator keberhasilan mulai terlihat dari berkurangnya tinggi genangan serta semakin singkatnya waktu surut air.
“Sekarang setelah hujan reda sekitar 20 sampai 30 menit sudah surut. Dulu bisa dua sampai tiga jam,” ujarnya.
Perubahan ini, lanjutnya, tidak lepas dari penerapan masterplan drainase yang mulai berjalan efektif di lapangan. Sistem aliran air kini lebih lancar dibandingkan sebelumnya.
DPUPRPKP juga mengintensifkan kegiatan normalisasi di berbagai titik. Tidak hanya saluran yang mengalami pendangkalan, tetapi juga lokasi yang sering terjadi penumpukan sampah.
Kegiatan ini bahkan dilakukan hampir setiap hari oleh satuan tugas yang telah dibentuk. Tujuannya untuk memastikan saluran air tetap berfungsi optimal, terutama saat musim hujan.
Salah satu kawasan yang menjadi perhatian adalah wilayah Langsep. Di kawasan ini, normalisasi dilakukan secara berkala karena kondisi saluran yang cepat mengalami sedimentasi.
“Di Langsep itu bisa dua minggu sekali kita bersihkan. Bahkan dalam setahun satu titik bisa sampai enam sampai delapan kali dinormalisasi,” terangnya.
Selain penanganan teknis, DPUPRPKP juga mendorong kolaborasi lintas sektor melalui program Jumat Gerakan Angkat Sampah dan Sedimen (GASS). Program ini melibatkan berbagai perangkat daerah hingga tingkat kecamatan dan kelurahan.
Melalui program tersebut, pembersihan saluran tidak hanya menjadi tanggung jawab pemerintah, tetapi juga melibatkan partisipasi bersama.
“Satgas DPU setiap hari jalan. Lalu setiap Jumat kita kolaborasi lewat GASS,” imbuh Dandung.
Dengan langkah yang terstruktur dan dilakukan secara konsisten, Pemkot Malang optimistis penanganan banjir akan semakin optimal ke depan. Upaya ini diharapkan mampu meminimalkan dampak genangan, meski hujan deras masih terjadi.








