Kabupaten Malang, blok-a.com – Terpilihnya Pengasuh Pondok Pesantren Tebuireng Jombang, KH Abdul Hakim Mahfudz atau Gus Kikin sebagai Ketua Umum (Ketum) Pengurus Besar Nahdlatul Ulama (PBNU) dalam Muktamar ke-35 ternyata telah diyakini sejak jauh hari oleh Inisiator Hari Santri Nasional, KH Thoriq Bin Ziyad atau Gus Thoriq.
Keyakinan itu bahkan disimbolkan melalui pemberian sebuah tongkat komando berbahan pohon zaitun kepada Gus Kikin pada Jumat (5/12/2025) lalu. Tongkat tersebut diberikan saat Gus Kikin bersilaturahmi ke kediaman Gus Thoriq di Pondok Pesantren Babussalam, Desa Banjarejo, Kecamatan Pagelaran, Kabupaten Malang.
Saat itu, Gus Kikin masih menjabat sebagai Ketua PWNU Jawa Timur periode 2024-2029 hasil Muktamar ke-34 di Lampung. Di tengah kondisi internal PBNU yang sedang menghadapi konflik, Gus Thoriq menitipkan pesan agar Gus Kikin ikut meredam persoalan tersebut.
“Gus Kikin ini kan cicitnya KH. Hasyim Asyari ya, kami berbincang bahwa PBNU menjadi kekuatan besar di Indonesia karena ada tiga momentum. Pertama, kemenangan awal sebagai partai politik di era orde lama, kedua penumpasan paham komunisme serta ketiga munculnya Hari Santri Nasional yang kita peringati setiap tahunnya,” ujar Gus Thoriq, Senin (31/8/2026).
Gus Thoriq menambahkan, pertemuan tersebut menjadi momentum untuk menyampaikan harapannya kepada Gus Kikin agar persoalan internal organisasi tidak berkembang menjadi konflik yang lebih luas.
“Mendamaikan itu tugas yang mulia, jangan sampai konflik internal PBNU menjadi konflik yang meluas di ummat,” tambahnya.
Ia menilai warga NU seharusnya berlomba membawa organisasi menuju kebaikan bagi umat. Konflik yang berkepanjangan dikhawatirkan justru menjauhkan NU dari tujuan awal pembentukannya sebagai benteng akidah umat.
“Jangan sampai dengan berlarutnya konflik, akan semakin membuat NU keluar dari pondasi awal pembentukkan organisasi ini. Sebab NU dibentuk sebagai benteng aqidah bagi umat,” tuturnya.
Tongkat tersebut dibuat oleh santri Gus Thoriq selama sekitar satu minggu. Tongkat komando sepanjang 45 sentimeter itu berasal dari pohon zaitun yang tumbuh di lingkungan Ponpes Babussalam dan telah diberi asma’.
Di lingkungan pesantren tersebut terdapat sekitar 12 pohon zaitun yang rata-rata berusia 7 hingga 10 tahun. Gus Thoriq menjelaskan, pemilihan kayu zaitun bukan tanpa alasan. Baginya, pohon tersebut memiliki simbol sebagai pemersatu berbagai perbedaan, termasuk konflik yang terjadi di kawasan Syam.
“Mudah-mudahan tongkat komando ini mampu mendamaikan PBNU. Karena sejatinya pohon zaitun adalah alat pemersatu perbedaan seperti yang terjadi diwilayah Syam (Jordania, Syiria, Palestina dan Lebanon-red),” jelasnya.
Ia juga mengisyaratkan adanya makna historis di balik pemberian tongkat tersebut, dengan mengaitkannya dengan kisah pemberian tongkat dari Syaikhona Kholil Bangkalan kepada KH Hasyim Asy’ari ketika proses pembentukan Nahdlatul Ulama.
“Dalam firman-nya Allah SWT bersumpah menggunakan buah tin dan pohon zaitun. Semoga melalui tongkat komando ini, Gus Kikin bisa menjadi penengah dan mendamaikan konflik internal dalam PBNU,” bebernya.
Kini, setelah Gus Kikin terpilih memimpin PBNU, Gus Thoriq berharap pesan yang dititipkannya melalui tongkat zaitun tersebut dapat diwujudkan dalam bentuk persatuan.
“Kami berharap NU menjadi pemersatu, menjadi agen Bhineka Tunggal Ika,” terang Gus Thoriq.
Menurutnya, PBNU juga memiliki tanggung jawab besar dalam menjaga empat pilar kebangsaan di tengah situasi geopolitik internasional yang terus berubah.
“Kemerdekaan Republik Indonesia adalah amanah yang sangat besar, satu satunya negara yang mampu merdeka dengan perjuangannya sendiri yang lama adalah Indonesia. Sehingga, Pancasila dan pesantren, harus manunggal,” ucapnya.
Gus Thoriq juga mengajak seluruh warga Nahdliyin untuk tidak larut dalam euforia kemenangan maupun kekecewaan setelah Muktamar ke-35. Ia mengingatkan bahwa momentum tersebut seharusnya menjadi awal untuk memperkuat persatuan.
Terlebih, saat ini umat Islam memasuki bulan Maulid Nabi Muhammad SAW. Ia berharap momentum tersebut dapat menjadi jalan bagi terciptanya perdamaian dan kemakmuran.
“Bulan ini masuk bulan Maulid Nabi Muhammad SAW. 12 Robiul Awwal. Semoga dengan ini semua persatuan, perdamaian dan kemakmuran bisa segera terwujud dan dirasakan oleh umat muslim dari ormas NU, dan semua ummat di NKRI,” pungkas Gus Thoriq. (yog/bob)








