32 Tahun Koleksi Uang Kuno, Warga Malang Ini Punya Gulden Terbitan 1937

Uang Kuno Gulden yang pernah beredar di Indonesia sebelum merdeka ditunjukkan Bambang di kediamannya di Kota Malang, Kamis (5/11/2026) (foto: blok-a.com/Bob Bimantara Leander)
Uang kuno Gulden yang pernah beredar di Indonesia sebelum merdeka ditunjukkan Bambang di kediamannya di Kota Malang, Kamis (5/11/2026) (foto: blok-a.com/Bob Bimantara Leander)

Kota Malang, blok-a.com – Bagi warga Kota Malang yang memiliki ketertarikan terhadap uang kuno atau sedang mencari koleksi uang lama, bisa menemui Bambang Suroso. Pria ini merupakan penjual sekaligus kolektor uang kuno yang telah menekuni bisnis tersebut sejak 1994.

Di kediamannya, Jalan Klayatan Gang 2 Nomor 2, RT 2 RW 1, Kelurahan Bandungrejosari, Kecamatan Sukun, Kota Malang, berbagai koleksi uang kuno tersimpan rapi.

Deretan uang kertas kuno dipigura dan dipajang di dinding rumahnya. Mulai pecahan Rp1 bergambar Soekarno tahun 1964 hingga pecahan Rp25. Tak hanya uang kertas, sejumlah galon di beberapa sudut ruangan juga dipenuhi uang koin kuno yang tampak seperti celengan.

Bambang menceritakan, awal mula dirinya terjun ke bisnis uang kuno justru terjadi secara tidak sengaja.

Saat itu, pada 1994, ia masih berprofesi sebagai guru. Di sela pekerjaannya, Bambang juga menjalankan usaha sampingan sebagai penjual barang loak. Ia biasa menerima borongan buku dan kertas bekas untuk kemudian dijual kembali.

Suatu ketika, saat hendak menimbang barang-barang tersebut, ia menemukan uang kuno pecahan Rp1 bergambar Soekarno berwarna merah keluaran 1964.

Uang tersebut kemudian disimpannya. Tak disangka, ketika dijual, ternyata ada orang yang berminat membelinya.

“Terus saya simpan dan saya jual itu ternyata laku. Dari situ saya melihat prospek bisnis ada,” kata Bambang saat ditemui blok-a.com, Kamis (6/11/2026).

Ia mengaku sudah tidak ingat persis berapa harga uang tersebut ketika pertama kali terjual. Namun, hasil penjualannya kala itu cukup lumayan untuk membantu memenuhi kebutuhan.

Dari pengalaman tersebut, Bambang mulai melihat peluang bisnis yang menjanjikan. Ia pun perlahan mengubah pekerjaan sampingannya dari penjual barang loak menjadi kolektor sekaligus pedagang uang kuno.

“Iya alasannya itu. Karena ada nilai jualnya jadi saya tertarik,” tuturnya.

Sejak saat itu, Bambang mulai fokus berburu uang kuno. Berbekal jaringan komunitas jual beli barang bekas yang sebelumnya sudah dimiliki, ia tidak kesulitan mendapatkan berbagai jenis uang lama.

Bahkan, banyak orang yang datang langsung ke rumahnya untuk menawarkan uang kuno yang mereka miliki.

“Ya banyak yang datang ke saya langsung dulu. Gak sulit kok. Karena banyak yang jual juga ke saya. Kan harganya lebih mahal,” ujarnya.

Dari aktivitas jual beli selama puluhan tahun, Bambang kini memiliki koleksi uang kuno dari berbagai periode sejarah. Bahkan, beberapa di antaranya merupakan uang yang diterbitkan sebelum Indonesia merdeka pada 1945.

Salah satu koleksi tertuanya adalah uang kertas 5 Gulden Hindia Belanda keluaran 1937. Ia mengaku memiliki dua lembar uang tersebut.

“Koleksi yang paling lama, yaitu uang pecahan 5 Gulden Hindia Belanda tahun 1937 dan saya punya dua lembar,” jelasnya.

Namun, ada dua koleksi lain yang memiliki kesan tersendiri bagi Bambang. Yakni uang pecahan Rp500 bergambar harimau dan Rp1.000 bergambar gajah yang diterbitkan pada 1957.

Kedua uang tersebut memiliki nilai sejarah tersendiri karena berkaitan dengan kebijakan sanering atau pemotongan nilai uang yang diterapkan pemerintah Indonesia pada 1959.

Melalui kebijakan tersebut, nilai uang pecahan Rp500 dan Rp1.000 yang sebelumnya beredar mengalami penurunan menjadi masing-masing Rp50 dan Rp100.

Bambang menyebut, perubahan nilai tersebut membuat uang keluaran 1957 memiliki keunikan tersendiri dan relatif sulit ditemukan.

“Jadi tahun 1957 itu kan nilainya masih Rp1.000, pas tahun setelahnya jadi Rp100 nilainya. Dan ini gak ada lainnya lagi yang tercetak, sulit ditemukan,” tuturnya.

Karena keunikannya, kedua uang tersebut memiliki nilai jual tinggi di kalangan kolektor. Bambang mengungkapkan, uang pecahan Rp500 dan Rp1.000 tersebut pernah terjual dengan harga masing-masing Rp2 juta pada 2019.

“Ya alhamdulillah uang itu laku mahal ya,” katanya sambil menunjukkan salinan uang tersebut dalam buku koleksinya.

Selain uang peninggalan Hindia Belanda dan uang keluaran awal kemerdekaan, Bambang juga mengoleksi berbagai pecahan Oeang Republik Indonesia (ORI). Uang tersebut merupakan mata uang pertama yang diterbitkan pemerintah Indonesia setelah merdeka.

Koleksi ORI miliknya dipigura dan dipajang rapi di dinding rumah. Menariknya, Bambang menyebut sebagian uang tersebut memiliki keterkaitan langsung dengan sejarah Kabupaten Malang.

Menurutnya, ORI tersebut pernah dicetak di sebuah percetakan yang berada di Desa Kendalpayak, Kecamatan Bululawang, Kabupaten Malang, sebelum kemudian dibawa ke Yogyakarta.

“Jadi, ORI ini ada yang dicetak dari sebuah percetakan yang terletak di Desa Kendalpayak, Kecamatan Bululawang, Kabupaten Malang lalu dibawa ke Yogyakarta,” ungkapnya.

Bagi Bambang, menekuni bisnis uang kuno bukan sekadar menjalankan hobi atau mencari keuntungan. Aktivitas tersebut juga menjadi investasi sekaligus sumber penghasilan setelah dirinya pensiun sebagai guru sekitar 2018.

Dengan memiliki empat anak, usaha jual beli uang kuno yang telah dirintis sejak 1994 itu tetap menjadi salah satu sumber penghidupannya bersama keluarga.

Menariknya, pembeli uang kuno yang datang kepadanya berasal dari berbagai kalangan dan kelompok usia. Masing-masing memiliki tujuan berbeda ketika mencari uang lama.

Mahasiswa, misalnya, biasanya membeli uang kuno untuk kebutuhan penelitian. Sementara kalangan orang tua lebih banyak mencari uang lama untuk mengenang masa lalu.

Ada pula pembeli yang datang untuk keperluan pernikahan. Uang kuno, khususnya koin, terkadang dijadikan mahar dengan menyesuaikan nominal atau angka tahun pernikahan.

Kini, pria berumur 68 tahun berjualan di pasar loak Comboran untuk Sabtu-Minggu, sementara Senin-Jumat ia berjualan di rumahnya.

“Bahkan ada yang mau nikah itu untuk mahar, agar uangnya pas dengan tanggal pernikahan membeli uang koin pecahan kuno ke kami,” tutup Bambang. (bob)

Baca berita ter-update di Google News Blok-a.com dan saluran Whatsapp Blok-a.com

Redaktur pelaksana sekaligus Jurnalis blok-a.com yang memfokuskan liputan pada isu sosial, politik, dan peristiwa terkini di Malang Raya.