Kota Malang, blok-a.com – Pelestarian Batik Sukun terus diperkenalkan kepada generasi muda melalui Festival Batik Sukun #7. Tahun ini, kegiatan tersebut menghadirkan edukasi dan pelatihan mewarnai batik yang melibatkan 30 anak dari enam sekolah di Aula Balai Kelurahan Sukun, Kecamatan Sukun, Kota Malang.
Enam sekolah yang berpartisipasi yakni SDN Sukun 1, SDN Sukun 2, SDN Sukun 3, MIMA 1, SDN Ngaglik, dan SD Eklesia. Melalui kegiatan ini, anak-anak diajak mengenal motif, warna, hingga filosofi yang terkandung dalam batik.
Kegiatan dibuka oleh Lurah Sukun, Jajan Heryana, sementara pelatihan dipandu Kelompok Batik KALOKA yang merupakan bagian dari Sentra Batik Sukun.
Jajan mengatakan, pengenalan budaya lokal perlu dilakukan sejak usia dini. Agar generasi muda memiliki pemahaman dan kebanggaan terhadap warisan budaya di lingkungannya.
“Batik bukan hanya produk kerajinan, tetapi juga identitas dan warisan budaya yang harus kita jaga bersama. Melalui kegiatan ini, anak-anak diharapkan semakin mengenal, mencintai, dan bangga terhadap batik. Khususnya Batik Sukun sebagai kekayaan budaya di lingkungan mereka sendiri,” ujar Jajan.
Ia menilai keterlibatan pemerintah kelurahan, komunitas perajin, dan sekolah menjadi bagian penting dalam memperluas edukasi budaya. Kolaborasi tersebut juga memberikan ruang bagi anak-anak untuk mengembangkan kreativitas melalui kegiatan membatik.
Ketua Sentra Batik Sukun, Nur Zanah atau akrab disapa Nena Bachtiar, menjelaskan bahwa identitas Batik Sukun berangkat dari pohon sukun (Artocarpus altilis). Tanaman tersebut menjadi simbol kesuburan, pertumbuhan, dan keberlanjutan kehidupan masyarakat.
Karakter pohon sukun kemudian diterjemahkan ke dalam motif buah, daun, dan bunga yang dipadukan dengan sulur tanaman, garis halus, serta unsur geometris. Penggunaan warna alam turut memperkuat karakter batik yang memadukan tradisi Jawa dengan kekhasan lokal Malang.
“Bagi kami, Batik Sukun bukan sekadar kain bermotif buah, daun, dan bunga sukun. Di dalamnya ada cerita tentang kehidupan masyarakat yang terus tumbuh, nilai kebersamaan, kesabaran, keberkahan, dan identitas lokal yang perlu diwariskan kepada generasi berikutnya,” ungkap Nena.
Melalui narasi Sandhya Nusantara, Batik Sukun juga dikembangkan sebagai media untuk menyampaikan nilai budaya dan filosofi kehidupan. Karya tersebut tidak hanya dipandang sebagai produk seni maupun ekonomi kreatif, tetapi juga merepresentasikan hubungan manusia dengan alam, lingkungan sosial, dan keberlanjutan tradisi.
Festival Batik Sukun telah menjadi bagian dari agenda pelestarian budaya di Kelurahan Sukun. Pada 2022, Ajang Kreasi Batik Sukun digelar di Taman Walet dengan sejumlah kegiatan. Seperti peragaan busana, mewarnai batik secara kolosal, belajar batik bersama anak-anak, hingga bazar UMKM.
Kegiatan serupa berlanjut pada 2025 melalui Festival Batik Sukun #6. Saat itu, agenda yang dihadirkan meliputi pameran batik lokal, lomba mewarnai, promosi UMKM, serta Pemilihan Duta Batik Cilik Nukus 2025.
Pada penyelenggaraan edisi ketujuh, edukasi bagi anak-anak kembali menjadi salah satu fokus kegiatan. Mereka tidak hanya diperkenalkan pada bentuk dan warna motif, tetapi juga diajak memahami cerita serta nilai budaya yang melekat pada Batik Sukun.
Melalui keterlibatan generasi muda, Festival Batik Sukun #7 diharapkan dapat memperkuat keberlanjutan identitas budaya lokal agar tetap dikenal dan berkembang di tengah masyarakat. (yog)








