Kota Malang, blok-a.com – Menjelang lebaran, banyak pekerja mulai menantikan tunjangan hari raya (THR). Namun bagi sebagian orang, harapan mereka jauh lebih sederhana, yakni hanya berharap ada pekerjaan yang datang.
Hal itu dirasakan para porter di Stasiun Malang. Di tengah riuhnya harapan pemudik yang akan pulang kampung, mereka justru menunggu rezeki dari jasa mengangkut barang penumpang.
Pantauan blok-a.com pada Selasa (10/3/2026), suasana stasiun masih belum ramai. Sejumlah porter tampak duduk santai di sekitar area parkir, menunggu penumpang yang turun dari mobil.
Sebagian penumpang bahkan memilih membawa koper dan barangnya sendiri. Dari pengamatan di lokasi, hanya satu penumpang yang terlihat menggunakan jasa porter.
Salah satu porter senior, Zaenal (63), mengaku Ramadan tahun ini terasa sepi bagi pekerjaannya.
“Kalau puasa gini ya sepi mas kayak gini,” kata Zaenal kepada blok-a.com.
Ia bercerita, sejak awal puasa atau sekitar 20 hari terakhir, dirinya hanya mendapat tiga penumpang yang menggunakan jasanya.
Dari tiga orang tersebut, bapak dua anak itu mengaku hanya membawa pulang sekitar Rp100 ribu dari jasa angkut barang.
Sekadar diketahui, penghasilan porter berasal dari upah penumpang. Menurut Zaenal, tarif jasa porter di stasiun tersebut telah diatur sekitar Rp38 ribu untuk sekali pengangkutan barang.
“Ya kalau sehari-hari pulang gak dapat apa-apa biasa ae. Cuma pas yang di rumah itu (istri) akhirnya tabungannya diambil dulu,” imbuhnya.
Tabungan tersebut, kata Zaenal, biasanya berasal dari penghasilan saat stasiun sedang ramai penumpang, seperti menjelang Lebaran atau liburan akhir tahun.
Ia memperkirakan lonjakan penumpang biasanya baru terasa sekitar H-5 Lebaran. Pada masa itu, pekerjaan porter bisa sangat padat.
Zaenal bahkan pernah melayani hingga 100 penumpang dalam sehari.
“Tapi itu pagi sampai sore mas. Capek tapi sukanya dapat uang,” ujarnya.
Di balik pekerjaan itu, kebersamaan antarporter di Stasiun Malang juga cukup kuat. Mereka memiliki aturan untuk saling berbagi hasil pekerjaan.
Setiap porter yang mendapat penumpang akan mengumpulkan uangnya, lalu dibagi rata kepada rekan-rekan lainnya.
“Jadi uangnya dikumpulin mas, terus dibagi begitu. Jadi gak ada saingan enaknya gitu di Stasiun Malang ini,” kata warga Kabupaten Malang tersebut.
Bagi porter yang sudah berusia lanjut seperti dirinya, ada pula aturan khusus terkait beban barang yang dibawa. Maksimal berat barang yang diangkut adalah 20 kilogram.
“Jadi ada aturan, udah gak berat mas,” katanya.
Meski usianya tidak lagi muda, Zaenal tetap memilih bekerja demi membantu kebutuhan keluarga dan cucunya. Baginya, rezeki adalah hal yang sudah diatur.
“Ya saya pernah nawar ditolak ya biasa mas. Kan ini kayak ojek gitu. Ada yang diam saja saat saya tawari itu. Udah biasa mas. Yang penting saya sehat,” tuturnya.
Setiap hari, Zaenal bekerja mulai pukul 06.00 hingga sekitar 14.30 WIB dengan sistem giliran antarporter.
Sudah lima tahun ia menjalani pekerjaan tersebut. Baginya, menjadi porter bukan sekadar mencari uang, tetapi juga membantu orang lain.
“Karena bantu orang kan mas jadi berkah rezekinya,” tutupnya.








