Kisah Lansia 92 Tahun di Malang, Nekat Jual Tanah Demi Naik Haji

Paitun (92) warga Dusun Pabrian, Desa Sukonolo, Kecamatan Bululawang, Kabupaten Malang menjadi calon jemaah haji tertua di Kabupaten Malang (blok-a.com/ Putu Ayu Pratama S)
Paitun (92) warga Dusun Pabrian, Desa Sukonolo, Kecamatan Bululawang, Kabupaten Malang menjadi calon jemaah haji tertua di Kabupaten Malang (blok-a.com/ Putu Ayu Pratama S)

Kabupaten Malang, blok-a.com – Paitun, warga Dusun Pabrian, Desa Sukonolo, Kecamatan Bululawang, Kabupaten Malang menjadi calon jemaah haji tertua dari jumlah total sebanyak 1.892 calon jemaah di Kabupaten Malang. 

Seorang wanita lanjut usia (lansia) berusia 92 tahun ini akan berangkat seorang diri. Artinya, tidak ada keluarga maupun sanak saudara yang akan mendampingi dirinya berangkat ke tanah suci pada Mei mendatang. 

“Nanti berangkat sendiri, sama rombongan kloter saja. Tidak ada keluarga yang ikut,” ujar Paitun lirih saat ditemui di kediamannya, Selesa (30/4/2024). 

Meskipun usianya tak lagi muda, namun lansia kelahiran 9 Agustus 1932 asal Malang ini masih nampak sehat dan bugar untuk berangkat naik haji. Ia pun mengaku, masih kerap berjalan kaki dengan jarak tempuh yang tidak dekat. 

Mencari kayu bakar, yang kemudian digunakan untuk memasak memang sudah menjadi kebiasaannya. Meskipun memiliki kompor gas, ia lebih memilih memasak menggunakan tungku kayu karena lebih praktis menurutnya.

“Biasanya jalan, kemana-mana jalan. Saya cari kayu di tegalan (ladang). Biasanya berangkat pagi pulang mau zuhur, terus lanjut salat jamaah. Kadang juga yasinan, pengajian juga jalan kaki,” ceritanya. 

Kesiapan Paitun pun mulai dilakukan, selain fisik, ia juga mulai mempersiapkan obat-obatan yang diperlukan. Terutama obat lambung dan asam urat yang kerap kali datang. 

“Sakit gak punya, ya cuma linu-linu memang sudah sepuh, punya sakit lambung juga. Alhamdulillah masih seger waras dan diberi umur panjang, bisa berkesempatan berangkat haji,” ucapnya bersyukur. 

Secara terpisah, keponakan Paitun, Ida Mafluhah mengatakan, kepribadian Piatun memang tidak ingin merepotkan orang lain. Meskipun di usia yang senja, ia terbiasa hidup mandiri. 

“Tidak mau makan masakan saya, jadi ya masak sendiri. Mungkin karena takut merepotkan, padahal saya sebagai keponakan pengennya beliau duduk saja di rumah karena sudah sepuh. Tapi ya tetep saya,” ujar Ida mendampingi Piatun. 

Ida menceritakan, antusias Paitun cukup tinggi untuk untuk berangkat ke tanah suci. Bahkan, untuk berangkat menjalankan rukun islam ke lima, wanita yang hidup sebatang kara ini nekat menjual salah satu aset peninggalan orang tuanya.

“Alhamdulillahnya, ada sedikit peninggalan dari orang tuanya, karena pengen bisa berangkat haji jadi dijual. Keinginannya sendiri kepengen ibadah haji. Biaya daftar Rp 26 juta. Nambahnya jadi sekitar Rp 60 juta. Ya kaget, karena tidak punya siapa-siapa. Tapi alhamdulillah biayanya kok cukup,” bebernya.

Karena usianya yang rentan, sebagai keluarga yang akan melepas keberangkatan kadang ia merasa was-was. Namun, melihat antusias Piatun, ia mengaku merelakan keberangkatan adik dari ayah kandungnya itu untuk mengejar keinginan berhaji. 

“Sebenarnya kami berat melepaskan sendiri, tapi juga senang karena keinginan beliau tercapai. Bingung apalagi orang tua, tidak bisa baca tulis. Tapi orangnya pengen berangkat Lillahita’ala, jadi kami hanya bisa berdoa semoga baliau bisa menjadi haji yang mabrur,” pungkasnya. (ptu)