Malang, Blok-a.com – Kota Malang selama ini identik dengan citra “kota pendidikan” yang sejuk dan ramah. Namun di balik reputasi itu, ada persoalan yang kian nyata, yakni biaya tempat tinggal yang terus naik.
Baik mahasiswa maupun pekerja muda menghadapi kesulitan mencari kos atau kontrakan yang layak dengan harga terjangkau. Fenomena ini menandai perubahan wajah Malang, dari kota pelajar yang murah dan nyaman, menjadi kota dengan tekanan ekonomi yang makin terasa.
Kenaikan Harga Kos dan Kontrakan
Kenaikan biaya hidup di Malang dirasakan betul oleh para perantau. Jika kenaikan harga makanan masih bisa disiasati dengan mencari warung langganan yang murah, tidak demikian halnya dengan hunian.
Arul (26), perantau asal Jember yang sudah delapan tahun tinggal di Malang, merasakan betul pergeseran harga tersebut. Ia bahkan harus berpindah-pindah kos setelah lulus dari pondok karena harga terus merangkak naik.
“Ya dulu sempat sih setelah lulus pondok itu kan ga pernah kos akhirnya pindah-pindah cari pas harganya naik. pindah. Kalau naiknya ga terlalu jauh, masih bisa lah. Abis itu kalau naik lagi ternyata ga mencukupi cari-cari di facebook,” ujarnya saat ditemui.
Arul mengaku, iklan hunian yang di-post lewat platform Facebook, terutama grup “Informasi Kos Malang” sering kali lebih lengkap.
“Lumayan susah sih cari yang murah, tapi di grup itu biasanya lebih detail,” lanjutnya
Kini, ia berhasil menemukan kos dengan harga di bawah Rp 400.000, batas harga sewa kos yang masih bisa ia toleransi. Meski begitu, ia harus menerima konsekuensi dari harga murah, yakni fasilitas yang sangat terbatas.
“Fasilitasnya mas? Ya ga ada WiFi lah,” akuinya sambil tertawa kecil.
Bagi Arul, ia tetap bersyukur karena biaya listrik dan air sudah termasuk dalam harga kos. Yang penting bisa hidup hemat tanpa kehilangan tempat untuk beristirahat.
Pilihan Sulit Antara Harga dan Kenyamanan
Kondisi serupa dialami Eco, berdasarkan pengalamannya menilai ada sebagian hunian di Malang yang tidak sebanding antara harga dan kualitasnya. Ia pernah mengalami kenaikan harga kontrakan tanpa ada perbaikan fasilitas yang dijanjikan.
Mahasiswa Teknik Informatika Universitas Islam Negeri Malang ini mengaku pernah mengalami kenaikan harga kontrakan yang membuatnya terpaksa pindah.
“Kita ngomong, “kok dinaikin Pak?” Ini katanya lantai 2 ini bakal direnovasi ya dan bawah bakal direnovasi, itu makanya naik,” jelasnya.
Eco hanya sekali berpindah kontarakan. Sebelumnya ia tinggal di Joyo Grand, kemudian pindah karena mengalami pengalaman buruk di sana.
“Harga naik tanpa renovasi, sementara kondisi rumah pengen roboh dan banjir,” kenang pemuda asal Bekasi ini.
Sementara itu, Virna (21), mahasiswi UIN asal Papua, menyoroti persoalan privasi di tempat tinggalnya. Ia tinggal satu rumah dengan pemilik kos, hanya dipisahkan oleh meja makan.
“Jadi kita satu rumah beneran, kamar mereka di depan, kamar anak kos di belakang, dan pemisahnya cuma meja makan. Itu bikin agak canggung, apalagi kalau mereka sekeluarga, ada anak kecil yang masih ramai. Rasanya kayak tinggal di rumah orang lain, padahal kita bayar juga” keluhnya.
Ia berharap pemilik kos bisa memisahkan area pribadi penghuni dan pemilik agar anak kos memiliki ruang istirahat yang lebih bebas dan nyaman.
Kenaikan Masih Masuk Akal
Di sisi lain, Iis (42), yang sudah sepuluh tahun mengelola kos, mengakui adanya kenaikan harga, tetapi dengan alasan yang masuk akal.
Menurutnya, kenaikan biaya operasional dan pemeliharaan menjadi faktor utama yang tidak bisa dihindari. Antara kebutuhan penghuni dan kemampuan pemilik kos untuk bertahan, semua pihak sedang beradaptasi di tengah tekanan ekonomi.
“Selama hampir sepuluh tahun ini, ibu hanya sekali menaikkan harga kos, itu pun sekitar lima tahun yang lalu. Alasannya karena biaya kebutuhan rumah tangga juga ikut naik, seperti listrik, air, sampah, dan iuran lingkungan RT. Jadi mau tidak mau harus menyesuaikan supaya tetap bisa menutup biaya operasional. Tapi ibu tetap usahakan jangan sampai memberatkan mahasiswa,” jelasnya.
Lebih lanjut, Iis menjelaskan bahwa ia menentukan harga sewa berbeda-beda, dan melihat dari kemampuan calon penghuni kamar-kamar dalam pengelolaannya.
“Ibu biasanya mempertimbangkan kemampuan mahasiswa. Karena ibu tahu, tidak semua anak kos disokong penuh oleh orang tua. Ada yang biaya hidupnya terbatas, bahkan ada yang kerja sambil kuliah. Jadi ibu tidak mematok harga tinggi. Selain itu, sistem pembayaran juga dibuat fleksibel. Bisa bayar per bulan, supaya mereka tidak terlalu terbebani,” jelas Iis.
Selain itu, Iis juga memahami dilema harga dan fasilitas hunian pada temporer seperti kos dan kontrakan. Ia menyebut bahwa saat ini anak-anak kos menginginkan fasilitas Wi-Fi, kamar mandi dalam, dan AC sebagai kebutuhan utama.
“Sekarang, anak-anak rantau zaman sekarang cenderung lebih selektif. Maunya kos dengan fasilitas lengkap, kamar mandi dalam, WiFi kencang, dan AC, tapi tetap ingin harga murah. Ibu kadang senyum-senyum sendiri, karena memang zamannya sudah berbeda. Sekarang anak-anak juga lebih sering menghabiskan waktu di luar, entah untuk nongkrong, healing, atau sekadar konten-konten di kafe.” ucap Iis. (mg2/gni)
Penulis: Muhammad Naufal Abiyyu (mahasiswa magang UTM Bangkalan)








