Ini Kata Sejarawan Soal Rencana Kecamatan Kepanjen Jadi Ibu Kota Kabupaten Malang

Gerbang masuk kecamatan Kepanjen. (Blok-a.com/Putu Ayu Pratama S)
Gerbang masuk kecamatan Kepanjen. (Blok-a.com/Putu Ayu Pratama S)

 

Kabupaten Malang, blok-a.com – Sejarawan asal Malang, Rakai Hino Galeswangi menanggapi soal rencana Kecamatan Kepanjen yang akan ditetapkan sebagai Ibu Kota Kabupaten Malang.

Perlu diketahui, rencana tersebut telah lama digaungkan oleh Bupati Malang, Sanusi. Bahkan, proses perencanaannya sudah memasuki pembentukan Rancangan Peraturan Daerah (Ranperda) yang didalamnya membahas Rencana Tata Ruang Wilayah (RTRW) wajah Ibu Kota Kabupaten Malang, sejak Maret 2022 silam.

Lebih lanjut, rencana yang masih abu-abu tersebut mendapat sorotan dari Rakai Hino. Sebagai pengamat sejarah, ia mengatakan sangat ada kemungkinan rencana Ibu Kota Kepanjen terlaksana.

Menurut pria yang juga menjabat sebagai Dosen Sejarah, Universitas Islam Internasional Darullughah Wadda’wah (UII Dalwa) itu mengatakan, perlu adanya penelitian yang menguatkan dasar rencana Kecamatan Kepanjen sebagai Ibu Kota Kabupaten Malang tersebut.

“Harusnya dia (Pemkab Malang) cari embrio itu untuk menguatkan lokalnya. Oleh sebab itu, harus ada penelitian secara komperhensif yang dilakukan oleh seseorang sejarawan,” ujar Rakai saat dikonfirmasi Blok-a.com, belum lama ini.

Kendati demikian, kata Rakai, tak semua sejarawan dapat melakukan penelitian. Menurutnya, hanya sejarawan dari masa klasik yang dapat melakukan penelitian terkait embiro yang menguatkan dasar rencana tersebut.

“Sejarawan ini tidak boleh yang dimasa kontenporer, tidak boleh sejarawan dari masa madya atau islam atau pergerakan, yang bisa mengkaji hanya sejarawan klasik. Dia yang harus memberikan penguatan pada Bupati Malang,” bebernya.

Ia menyakini, bahwa rencana yang terus dimatangkan oleh Pemkab Malang itu dapat terlaksana. Karena, banyak data maupun prasasti yang dapat diulas menjadi dasar penelitian.

“Saya yakin bisa karena datanya banyak, salah satunya data promernya dia punya prasasti turian. Jadi sangat memungkinkan, kalau dia mau membentuk sendiri ya harus memgumpulkan data dan faktanya, tanpa itu ya gak bisa,” pungkasnya. (ptu/bob)