Kabupaten Malang, blok-a.com – Keluarga korban tragedi kanjuruhan mendesak seluruh elemen untuk menetapkan 1 Oktober menjadi hari duka sepak bola nasional. Mereka juga mengharapkan tidak ada pertandingan di hari tersebut.
Hal tersebut disampaikan oleh salah satu keluarga korban, Nuri Hidayat setelah melakukan doa bersama di pintu Gate 13 bersama puluhan keluarga korban lainnya.
Paman dari almarhum Jova Ferlino (16), warga asal Desa Kasembon, Kecamatan Bululwang itu meminta hal tersebut sebagai bentuk bela sungkawa terhadap setidaknya 135 nyawa yang telah gugur di tragedi kemanusiaan 1 Oktober 2022 silam.
“Saya minta agar 1 Oktober menjadi hari duka sepak bola nasional. Jadi mohon tidak diadakan sepak bola pada hari itu di seluruh Indonesia. Karena ini adalah kejadian duka nasional,” tutur Nuri saat ditemui awak media di Stadion Kanjuruhan, Sabtu (16/9/2023).
Di hari duka nasional tersebut, kata Nuri, keluarga korban juga meminta seluruh elemen dapat mengibarkan bendera setengah tiang sebagai bentuk penghormatan kepada 135 korban tragedi kelam Kanjuruhan.
“Umpama kalau memungkinkan, kita mohon kibarkan bendera setengah tiang untuk menghormati. Istilahnya tragedi Kanjuruhan menjadi berita duka untuk kita, kami minta untuk diberikan lambang dengan mengibarkan bendera setengah tiang,” ujarnya.
Hal yang sama juga disampaikan oleh Devi Athok Yulfitri. Selain mengungkapkan kekecewaan terhadap jalannya renovasi Stadion Kanjuruhan, Ayah kandung dari mendiang Natasya Deby (16) dan Naila Deby (13) itu juga meminta 1 Oktober ditetapkan sebagai hari duka sepak bola nasional.
“Ini kan masalah sepak bola, ya kami mohon untuk per satu oktober ditiadakan pertandingan sepak bola di seluruh Indonesia,” tegas Devi Athok.(ptu/lio)








