Tak Hanya Pengamanan Nataru, Pemkot Malang Perhatikan Mahasiswa Korban Bencana

Screenshot

Kota Malang, blok-a.com – Pemerintah Kota (Pemkot) Malang menegaskan komitmen kesiapsiagaan menjelang perayaan Natal dan Tahun Baru (Nataru) 2025 melalui Apel Operasi Lilin. Wali Kota Malang, Wahyu Hidayat, menekankan bahwa pengamanan Nataru menjadi agenda rutin tahunan untuk memastikan situasi tetap aman dan kondusif.

Dalam apel tersebut, Wahyu Hidayat membacakan sambutan Kapolri terkait pelaksanaan Operasi Lilin 2025. Ia menyampaikan bahwa kesiapsiagaan tidak hanya difokuskan pada pengamanan arus kedatangan masyarakat dan pelaksanaan ibadah Natal, tetapi juga mencakup antisipasi potensi bencana.

“Kesiapsiagaan ini menyeluruh, mulai dari pengamanan ibadah, aktivitas masyarakat selama libur Nataru, hingga kesiapan menghadapi kemungkinan bencana,” ujar Wahyu Hidayat.

Menurutnya, sinergi lintas sektor menjadi kunci utama dalam pengamanan Nataru. Kolaborasi melibatkan TNI–Polri, organisasi masyarakat, serta organisasi keagamaan, termasuk menghidupkan kembali pam swakarsa melalui sistem keamanan lingkungan (siskamling) di tingkat kelurahan, RT, dan RW.

“Semua pihak saling bahu-membahu agar masyarakat yang berlibur maupun yang menjalankan ibadah dapat merasa aman, nyaman, dan tidak terganggu,” tegasnya.

Wahyu Hidayat memastikan bahwa TNI dan Polri telah menyiapkan langkah antisipatif terhadap berbagai potensi gangguan selama periode Nataru, sehingga situasi Kota Malang tetap terkendali.

Selain fokus pada pengamanan, Pemkot Malang juga menunjukkan kepedulian sosial terhadap mahasiswa yang terdampak bencana di sejumlah wilayah Sumatra, seperti Sumatra Barat, Sumatra Utara, dan Aceh. Melalui Forum Pembauran Kebangsaan (FPK), Pemkot menerima laporan adanya mahasiswa yang kesulitan berkomunikasi dengan keluarga serta mengalami hambatan ekonomi akibat bencana.

“Bersama Dinas Sosial, kami telah menyalurkan bantuan kemanusiaan. Sekitar 30 truk bantuan sudah dikirim melalui Bandara Abdurrahman Saleh dan Pelabuhan Tanjung Perak, dan bantuan terus mengalir,” jelasnya.

Bantuan tersebut kemudian diarahkan untuk membantu mahasiswa yang keluarganya terdampak bencana. Tercatat sebanyak 122 mahasiswa menerima bantuan, dengan penyerahan yang diwakili oleh beberapa perwakilan mahasiswa.

Pemkot Malang juga membuka ruang komunikasi melalui FPK agar kebutuhan para mahasiswa dapat segera disampaikan. Tak hanya itu, Pemkot turut melibatkan Forum Rektor untuk memberikan keringanan pembayaran Uang Kuliah Tunggal (UKT) bagi mahasiswa terdampak.

“Ini bentuk kehadiran pemerintah. Tidak hanya bagi masyarakat yang terdampak langsung di daerah bencana, tetapi juga bagi mereka yang berada di Kota Malang dan masih menunggu kepastian kondisi keluarganya di sana,” pungkas Wahyu. (bob)