Kabupaten Malang, blok-a.com – Produksi sampah di Kabupaten Malang masih belum seluruhnya terangkut. Saat ini, Dinas Lingkungan Hidup (DLH) Kabupaten Malang hanya mampu mengelola sekitar 54 persen dari total produksi sampah masyarakat setiap harinya.
Pelaksana Tugas (Plt) Kepala DLH Kabupaten Malang, Ahmad Dzulfikar Nurrahman, menjelaskan. Keterbatasan itu terjadi karena jumlah truk armroll pengangkut sampah masih minim dan sebagian dalam kondisi perbaikan (maintenance).
“Ada sekitar 74 unit, karena ada yang di-maintenance dan lain-lain itu tidak kita masukkan ke unit yang difungsikan. Untuk persentase pengangkutan sampah masih 54 persen dari produksi sekitar 1.200 ton per hari, yang terkelola baru sekitar 700 ton,” ujar Avi, sapaan akrabnya, Jumat (17/10/2025).
DLH Kabupaten Malang saat ini tercatat memiliki 71 unit truk armroll, termasuk dua unit bantuan CSR dari Bank Jatim Cabang Kepanjen dan PT Bagong Dekaka Makmur. Tambahan lima unit baru tengah dalam proses pengadaan dari APBD 2025, serta satu unit lagi merupakan bantuan CSR PG Krebet yang akan diserahkan bertepatan dengan Hari Jadi Kabupaten Malang ke-1.265.
Namun, Avi mengakui bahwa jumlah itu belum cukup untuk menjangkau seluruh wilayah Kabupaten Malang.
“Kalau kita mau 100 persen ya tinggal dikalikan dua. Artinya, dari 74 unit menjadi sekitar 150 unit. Logikanya, jumlah penduduk besar, jadi fasilitasnya juga harus seimbang,” jelasnya.
Selain memperbaiki armada, DLH juga tengah menyiapkan inovasi pengelolaan sampah berbasis rumah tangga. Salah satunya dengan mengadopsi konsep biopori seperti di Bali yang akan diluncurkan pada tahun 2026 mendatang.
“Secara konsep memang seperti di Bali. Intinya, masyarakat kami biasakan untuk mengolah sampah organik di rumah, tidak semua harus lari ke TPA,” kata Avi.
Menurut catatan DLH, sekitar 70 persen sampah di TPA merupakan jenis organik, yang seringkali menjadi sumber permasalahan lingkungan. Dengan sistem biopori, ditambah teknologi maggot dan kompos, diharapkan aliran sampah ke TPA bisa berkurang drastis.
Selain itu, DLH juga akan mengintensifkan program TPS3R (Tempat Pengelolaan Sampah Reduce-Reuse-Recycle), membentuk TPS3R baru di wilayah strategis, dan memperkuat jaringan Bank Sampah di masyarakat.
“Ketika semua komponen ini berjalan, dengan fasilitas yang ada pun insyaallah masih bisa tertangani. Target kami zero waste di tahun 2029 atau sampai akhir masa jabatan Pak Bupati,” pungkas Avi. (yog)








