Tutup 2025 dengan Manis, DLH Kabupaten Malang Borong 36 Penghargaan Tingkat Provinsi

Penghargaan yang diterima oleh DLH Kabupaten Malang (tangkapanlayar)
Penghargaan yang diterima oleh DLH Kabupaten Malang (tangkapanlayar)

Kabupaten Malang, blok-a.com – Dinas Lingkungan Hidup (DLH) Kabupaten Malang menutup tahun 2025 dengan torehan prestasi membanggakan. Beragam penghargaan tingkat kabupaten hingga nasional berhasil diraih, mencerminkan konsistensi pemerintah daerah dalam pengelolaan lingkungan hidup yang berkelanjutan, khususnya pada sektor pengelolaan sampah dan penguatan partisipasi masyarakat.

Catatan yang dihimpun oleh blok-a.com, 36 penghargaan tersebut terdiri dari Sekolah Adiwiyata yang mendapatkan total 19 penghargaan. Kemudian Eco Pesantren mendapatkan 4 penghargaan mulai tingkat pratama dan rintisan.

Lalu, Desa atau Kelurahan Berseri mendapatkan 10 penghargaan dengan tambahan 1 kelurahan terbaik. Dilanjutkan dengan Penghargaan Pelestari Fungsi Lingkungan Hidup kategori penyelamat lingkungan hidup. Hingga penghargaan Proklim yang mendapatkan apresiasi Program Kampung Iklim berupa Trophy Kategori Utama yang diraih Desa Toyomarto, Kecamatan Singosari, melalui Konservasi Kaki Gunung Arjuno.

Plt Kepala DLH Kabupaten Malang, Ahmad Dzulfikar Nurrahman, mengatakan capaian tersebut merupakan hasil kerja bersama lintas sektor, bukan semata target penghargaan. Ia menyebut semua pihak memiliki dampak strategis dan saling berkolaborasi dalam menjaga kelestarian lingkungan,

“Penghargaan-penghargaan ini bukan tujuan utama, tetapi bentuk apresiasi atas upaya pengelolaan lingkungan hidup di Kabupaten Malang,” ujar Avi, sapaan akrabnya pada Jumat (2/1/2026).

Sepanjang 2025, DLH Kabupaten Malang mencatat raihan Sekolah Adiwiyata sebanyak 23 sekolah tingkat kabupaten, 19 sekolah tingkat provinsi, tiga sekolah tingkat nasional, dan tiga sekolah tingkat mandiri. Program ini dinilai berdampak langsung pada pembentukan perilaku ramah lingkungan sejak usia dini.

“Sekolah Adiwiyata ini menyasar perubahan perilaku generasi muda sekaligus memperkuat ekosistem pendidikan lingkungan yang berkelanjutan,” tambahnya.

Selain itu, program Eco Pesantren juga menunjukkan perkembangan signifikan. Pada penilaian 2024, satu pondok pesantren meraih tingkat pratama. Sementara pada penilaian 2025, dua pondok pesantren kembali meraih tingkat pratama dan satu pondok pesantren masuk kategori rintisan. Beberapa di antaranya mendapatkan dukungan berupa kendaraan roda tiga untuk menunjang pengelolaan lingkungan.

“Eco Pesantren memiliki peran penting karena menyasar santri dan lingkungan pesantren yang secara sosial sangat kuat pengaruhnya di masyarakat,” terangnya.

Pada kategori Desa dan Kelurahan Berseri, DLH Kabupaten Malang mencatat tiga desa/kelurahan tingkat pratama, tiga tingkat madya, serta empat tingkat mandiri. Desa Sumberdem, Kecamatan Wonosari, bahkan dinobatkan sebagai Desa/Kelurahan Berseri Terbaik Tahun 2025.

Program ini, lanjut Avi, mendorong kemandirian desa dalam pengelolaan lingkungan, terutama pengelolaan sampah berbasis masyarakat.

“Desa dan kelurahan BERSERI menjadi ujung tombak pengelolaan sampah di tingkat tapak. Ketika desa sudah mandiri, maka persoalan lingkungan bisa ditangani secara berkelanjutan,” bebernya.

Tak hanya itu, kategori Pelestari Fungsi Lingkungan Hidup juga diraih oleh individu dan kelompok yang dinilai konsisten mendedikasikan diri dalam konservasi. Pada penilaian 2024, kategori Perintis Lingkungan diraih oleh Sutari yang bergerak di bidang konservasi penyu dan tukik. Sementara pada penilaian 2025, kategori Penyelamat Lingkungan diraih Koperasi Jasa Maju Makmur Bersama yang fokus pada konservasi dan sumber daya alam.

Sementara pada program Proklim (Program Kampung Iklim), Kabupaten Malang berhasil meraih Trophy Kategori Utama melalui Desa Toyomarto, Kecamatan Singosari, berkat upaya konservasi kawasan kaki Gunung Arjuno.

Avi menjelaskan mayoritas indikator penilaian dari berbagai penghargaan tersebut berkaitan langsung dengan pengelolaan sampah. Menurutnya, komitmen pemerintah daerah dan sinergi lintas masyarakat serta partisipasi aktif masyarakat menjadi kunci untuk mengelola sampah di Kabupaten Malang.

“Masing-masing penghargaan memang memiliki indikator berbeda, namun secara umum prosentase terbesar penilaiannya adalah pengelolaan sampah. Di sinilah komitmen pimpinan daerah, sinergi lintas perangkat daerah, serta partisipasi aktif masyarakat menjadi kunci,” pungkasnya. (yog/bob)