Dikukuhkan Jadi Guru Besar Unisma, Prof Istirochah Kembangkan Teknologi Sonic Bloom untuk Swasembada Kedelai

Rektor Unisma, Prof. Junaidi saat mengukuhkan Prof. Dr. Ir. Hj. Istirochah Pujiwati, M.P. sebagai Guru Besar bidang kepakaran fisiologi tumbuhan, Sabtu (9/5/2026). (blok-a.com/ Zul)
Rektor Unisma, Prof. Junaidi saat mengukuhkan Prof. Dr. Ir. Hj. Istirochah Pujiwati, M.P. sebagai Guru Besar bidang kepakaran fisiologi tumbuhan, Sabtu (9/5/2026). (blok-a.com/ Zul)

Kota Malang, blok-a.com – Ketergantungan Indonesia terhadap impor kedelai menjadi salah satu kegelisahan yang terus dipikirkan Prof. Dr. Ir. Hj. Istirochah Pujiwati, M.P. Kegelisahan itu pula yang mengantarkannya dikukuhkan sebagai Guru Besar Unisma dalam bidang kepakaran fisiologi tumbuhan pada sidang terbuka senat Universitas Islam Malang (Unisma), Sabtu (9/5/2026) lalu.

Dalam prosesi pengukuhan yang dipimpin langsung Rektor Unisma, Prof. Junaidi Mistar, Istirochah menyampaikan orasi ilmiah bertajuk Inovasi Teknologi Sonic Bloom sebagai Upaya Menuju Kemandirian Pangan Kedelai di Indonesia. Sebelumnya, ia resmi memperoleh kepercayaan sebagai Guru Besar terhitung mulai 1 April 2025.

Di hadapan jajaran senat dan tamu undangan, Istirochah menyoroti persoalan kedelai nasional yang hingga kini masih bergantung pada impor. Menurutnya, kebutuhan kedelai Indonesia terus meningkat, sementara kemampuan produksi petani domestik belum mampu mengimbanginya.

“Kedelai merupakan komoditas pangan penting ketiga setelah padi dan jagung,” ujar Istirochah dalam pidato pengukuhannya.

Ia menjelaskan, kebutuhan kedelai Indonesia pada 2025 mencapai 2,66 juta ton. Namun sekitar 80 persen kebutuhan tersebut masih dipenuhi melalui impor dari sejumlah negara seperti Amerika Serikat, Kanada, Argentina, Brasil, hingga Malaysia.

“Artinya petani domestik kita hanya mampu memenuhi 20 persen kebutuhan kedelai Indonesia,” katanya.

Kondisi tersebut, lanjut dia, membuat Indonesia perlu mencari inovasi baru di sektor pertanian agar produktivitas tanaman pangan dapat meningkat secara efektif dan efisien.

Dari situlah ia mengembangkan penelitian mengenai teknologi Sonic Bloom, sebuah metode stimulasi suara dengan frekuensi tertentu untuk membantu tanaman menyerap nutrisi lebih optimal melalui daun.

“Sonic Bloom adalah teknologi perangsangan pembukaan lebar stomata dengan menggunakan gelombang suara berfrekuensi tertentu diikuti pemberian pupuk cair melalui daun,” ujarnya.

Teknologi tersebut bekerja dengan memanfaatkan gelombang suara berfrekuensi 3500 hingga 5000 Hertz sebelum tanaman disemprot pupuk cair. Menurutnya, metode itu mampu membuat stomata tanaman membuka lebih maksimal sehingga penyerapan nutrisi menjadi lebih efektif.

“Dengan membukanya stomata, absorpsi pupuk menjadi lebih efektif dan efisien,” katanya.

Hasil penelitian yang ia lakukan menunjukkan peningkatan cukup signifikan. Pada kedelai varietas Anjasmoro, paparan gelombang suara selama 40 menit mampu meningkatkan produksi hingga 70,9 persen dengan hasil panen mencapai 3,93 ton per hektare.

Tak hanya meningkatkan produktivitas, teknologi tersebut juga disebut mampu meningkatkan toleransi tanaman terhadap kekeringan hingga memperbaiki kualitas hasil panen.

“Penggunaan teknologi Sonic Bloom berpeluang untuk dikembangkan guna meningkatkan produktivitas tanaman kedelai khususnya maupun komoditas pertanian lainnya,” ujarnya.

Meski demikian, Istirochah mengakui pengembangan teknologi tersebut masih menghadapi berbagai tantangan, mulai dari standarisasi metode, pengaruh terhadap organisme lain, hingga kesiapan petani dalam mengadopsi teknologi tersebut secara luas.

“Perlu kiranya ada kolaborasi positif antara peneliti, akademisi, pemerintah, dan petani untuk mewujudkan mimpi bahwa Indonesia bisa swasembada kedelai,” katanya.

Perjalanan akademik Istirochah sendiri terbilang panjang. Ia menyelesaikan pendidikan S1 Budidaya Pertanian, S2 Ilmu Tanaman, hingga S3 Ilmu Pertanian di Universitas Brawijaya. Di lingkungan Unisma, ia pernah menjabat sebagai Kepala Biro Administrasi Akademik dan Kerja Sama pada 2014 hingga 2019, lalu menjadi Wakil Rektor bidang Kelembagaan, Publikasi, dan Teknologi Informasi pada 2019 sampai 2024.

Dalam bidang penelitian, Istirochah dikenal aktif mengembangkan riset agronomi dan fisiologi tumbuhan. Berbagai hibah penelitian berhasil ia peroleh, mulai dari penelitian dasar unggulan perguruan tinggi hingga penelitian terapan unggulan perguruan tinggi.

Selain menghasilkan jurnal internasional bereputasi dan prosiding ilmiah, ia juga telah menulis sembilan buku, menghasilkan sembilan hak kekayaan intelektual, serta satu paten sederhana. Sejak 1998, ia juga telah membimbing ratusan mahasiswa di lingkungan kampus.

Lebih lanjut, Istirochah turut menyinggung soal tanggung jawab insan pertanian dalam menjaga keberlanjutan bumi. Ia mengutip Surat Al-An’am ayat 99 sebagai landasan moral dalam mengelola sumber daya hayati.

“Ayat ini tidak hanya menunjukkan keajaiban proses pertumbuhan tanaman, tetapi juga menjadi landasan moral bagi manusia, terutama insan pertanian memiliki tanggung jawab untuk mengelola, memanfaatkan, dan menjaga sumber daya hayati secara berkelanjutan,” pungkasnya. (ber/bob)