Tindakan Boikot Produk Israel Merajalela di Sosial Media, Akademisi UB: Tidak Efektif

Tindakan Boikot Produk Israel Merajalela di Sosial Media, Akademisi UB: Tidak Efektif
ilustrasi produk Israel

 

Kota Malang, Blok-a.com – Tindakan boikot yang merajalela di sosial media atas produk yang diklaim membantu Israel menimbulkan pro dan kontra. Untuk beberapa pihak, pemboikotan tersebut menjadi salah satu kunci membela Palestina yang kini tengah dibombardir Israel. Sementara itu, beberapa pihak kurang setuju karena mempertimbangkan nasib pekerja yang turut terkena dampak.

Menurut analis perang sekaligus Dosen Hubungan Internasional Universitas Brawijaya (UB), Adhi Cahya Fahadayna, memang aksi pemboikotan tersebut dinilai kurang efektif.

“Aksi boikot ini kurang efektif, karena produk atau perusahaan yang diboikot tidak berhubungan langsung dengan Israel,” beber dia, pada Rabu (16/11/2023).

Sebelumnya, memang sempat beredar di media sosial soal rentetan produk atau perusahaan yang diklaim mendukung Israel, atau menjadi bagian dari Israel. Yakni, McDonalds, KFC, Pizza Hut, Burger King, Starbucks, Subway, Rinso, Molto, Pepsodent, Close up, Sensodyne, Oral-b, Pantene, Sunsilk, Lifeboy, Lux, Vanish, Johnsons, Cif, Fairy, Colgate, Listerine, Head & shoulder, Kitkat dan 200 produk lainnya.

Pemboikotan tetap terjadi dan semakin masif di media sosial. Namun, Adhi menyebut hal itu sama sekali tidak berpengaruh dalam perekonomian Israel. Pasalnya, Israel juga tidak mendapatkan dana untuk melaksanakan aksinya di jalur Gaza melalui penjualan produk tersebut.

“Tidak sama sekali (berpengaruh) terhadap perekonomian Israel. Karena sumber pendapatan Israel tidak berasal dari perusahaan-perusahaan tersebut,” lanjut dia.

Dia menyebut, Israel sebenarnya tidak memiliki banyak “koalisi” di kancah perpolitikan dunia. Namun, kedekatannya dengan negara adidaya memang membuatnya memiliki kekuasaan spesial.

“Dalam konteks politik internasional, Israel bukanlah negara yang memiliki banyak “teman”. Namun, kedekatan Israel dengan negara adidaya bisa membuat Israel bisa leluasa melakukan banyak hal,” lanjutnya.

Kedekatan Israel, lanjut dia, mayoritas bersama negara adidaya seperti Amerika Serikat, Inggris dan Perancis. Terlebih, ketiga negara tersebut adalah anggota tetap dewan keamanan Persekutuan Bangsa-Bangsa (PBB). Ketiga negara tersebut memiliki pengaruh lebih besar dalam forum internasional.

“Dukungan negara-negara kuat inilah yg membuat PBB tidak berdaya,” lanjut dia.

Yang bisa dilakukan oleh masyarakat Indonesia yang ingin mengutarakan kepedulian terhadap konflik tersebut adalah terus melakukan kampanye di media sosial. Serta menggalang donasi kemanusiaan.

Indonesia sendiri memiliki platform yang kuat untuk konsisten memberikan sumbangan kemanusiaan yang terus berkoordinasi dengan Kedutaan Palestina untuk mengetahui kebutuhan dari warga Gaza. (mg2/bob)