Lokasi Kecelakaan Maut di Kawasan Gunung Bromo Minim Penerangan dan Pembatas Jalan

Proses evakuasi kendaraan yang terlibat kecelakaan tunggal di Jurang Kawasan Taman Nasional Bromo Tenger Semeru (TNBTS), Desa Ngadas, Kecamatan Poncokusumo, Kabupaten Malang, pada Selasa (14/5/2024). (Dok. tangkapan layaran)
Proses evakuasi kendaraan yang terlibat kecelakaan tunggal di Jurang Kawasan Taman Nasional Bromo Tenger Semeru (TNBTS), Desa Ngadas, Kecamatan Poncokusumo, Kabupaten Malang, pada Selasa (14/5/2024). (Dok. tangkapan layaran)

Kabupaten Malang, blok-a.com – Satlantas Polres Malang menyebut lokasi kecelakaan maut di jurang kawasan Taman Nasional Bromo Tengger Semeru (TNBTS) minim penerangan hingga pembatas jalan. 

Belum lama ini, terjadi kecelakaan di Desa Ngadas, Kecamatan Poncokusumo, Kabupaten Malang tersebut terjadi pada Senin (13/5/2024) malam sekitar pukul 18.30 WIB.

Kecelakaan maut itu menimpa rombongan yang mengendarai Fortuner asal Kecamatan Gondanglegi, Kabupaten Malang. Terdapat 4 dari 9 korban tewas akibat peristiwa tersebut, sementara 5 korban lainnya mengalami luka-luka dan hingga dibutuhkan perawatan intensif di rumah sakit. 

Kasatlantas Polres Malang, AKP Adis Dani Gatra menerangkan, di lokasi kecelakaan yang berada di kawasan Gunung Bromo itu memiliki penerangan yang minim. Hal ini cukup berpotensi untuk menyebabkan kecelakaan. Terlebih akses jalan menuju tempat wisata tersebut terbilang cukup curam. 

“Yang dibutuhkan di seputaran jalur TNBTS itu adalah penerangan jalan. Kamarin waktu evakuasi juga kesulitan karena minimnya penerangan,” ujar Adis saat ditemui Jumat (17/5/2024) kemarin. 

Selain penerangan, sambung Adis, sistem pengamanan pembatas jalan juga butuh untuk dilakukan pembaruan. Sebab, sebelumnya pembatas jalan hanya dibuat memanfaatkan ban bekas yang dibuat secara swadaya oleh masyarakat sekitar. 

“Pembatas hanya terbuat dari gabungan ban motor bekas. Kemudina dibantu dengan pasak dari kayu. Itu pun kalau misalnya benturan dengan mobil ya kurang memiliki kapabilitas daya tahan yang kuat, masih kurang,” jelasnya. 

Sehingga menurutnya perlu dipasang guard rail serta dibutuhkannya rambu-rambu lalu lintas untuk memberikan informasi kepada pengendara secara tertulis. 

“Rambu-rambu peringatan seperti menjelang turunan, jalan turunan, adanya imbauan hati-hati turunan tajam. Atau juga menjelang penanjakan. Biasanya kalau mobil tidak kuat kan dia mundur, jadi keberadaan rambu-rambu juga penting,” urainya. 

Disinggung terkait lokasi rawan kecelakaan, Adis menampik. Sebab, selama satu tahun terakhir belum ditemukan peristiwa serupa. Kendati demikian, jalanan yang curam membuat masyarakat mengantisipasi melalui pembangunan secara swadaya. 

“Kalau untuk di titiknya ini selama setahun belum pernah kejadian ya. Cuma memang dari masyarakat ini melihat, masyarakat adat juga melihat bahwa memang turunan itu tajam. Sehingga dengan swadaya membangun pagar buatan,” pungkasnya. (ptu/bob)

Kirim pesan
Butuh bantuan?
Hai, apa kabar?
Apa yang bisa kami bantu?