Keluarga Bantah Kakek di Wagir Malang Meninggal Gegara Dianiaya

Niken Krisdiyanti, anak korban saat menghadiri pertemuan dengan warga Bedali perihal dugaan kematian ayahnya akibat penganiayaan (blok-a.com / Yogga Ardiawan)
Niken Krisdiyanti, anak korban saat menghadiri pertemuan dengan warga Bedali perihal dugaan kematian ayahnya akibat penganiayaan (blok-a.com / Yogga Ardiawan)

Kabupaten Malang, blok-a.com – Kasus meninggalnya seorang kakek berinisial K (60) asal Dusun Bedali, Desa Dalisodo, Kecamatan Wagir, Kabupaten Malang, masih menyisakan perdebatan di kalangan masyarakat. Sebelumnya, K diduga menjadi korban penganiayaan oleh anak dan cucunya. Namun pihak keluarga membantah tudingan tersebut.

Putri korban, Niken Krisdianti, menceritakan kronologi bahwa peristiwa yang terjadi pada malam kejadian bukanlah penganiayaan terhadap ayahnya, melainkan cekcok antara dirinya dengan kakaknya (AT) yang merupakan terduga pelaku.

“Melihat saya cekcok dengan kakak itu, ayah saya hanya melerai,” kata Niken.

Ia membenarkan bahwa ayahnya mengalami luka setelah melerai dirinya dengan kakaknya. Namun, ia membantah luka tersebut diakibatkan oleh penganiayaan yang dilakukan oleh kakaknya.

“Enggak tahu itu kesenggol atau gimana, enggak tahu. Memang ada luka di bibir, tapi saya enggak tahu kena apa,” tambah Niken.

Ia menceritakan, setelah pertengkaran terjadi, ayahnya memang meminta tolong dengan cara berteriak. Pada saat itulah seorang saksi yang bernama Kristiyono yang sedang lewat di depan rumahnya mendengar teriakan tersebut.

“Ayah saya itu tolong-tolong gitu. Ada saksi Pak Kris yang lewat, tolongin saya berdiri,” tambahnya.

Setelah berdiri, lanjut Niken ayahnya terjatuh. Ia menduga hal itu dikarenakan syok melihat dirinya bertengkar dengan kakaknya.

“Ayah saya itu jatuh, dibantu dibangunin Pak Chris. Nah itu mungkin memang kalau apa yang namanya orang tua kan syok,” bebernya.

Ia juga mengklarifikasi kesaksian Kristiyono yang mendengarkan ayahnya berbicara bahwa dirinya dicekik oleh kakaknya. “Yang tadi orang-orang bilang saya dicekik itu tidak benar. Namanya orang tua kalau syok omongannya itu ngglambyar (melantur),” tuturnya.

Niken mengaku hubungan keluarga sebenarnya cukup harmonis. Bahkan, sang kakak kerap membantu ayah mereka dalam berbagai hal.

“Kakak saya sering bantu ayah saya. Kalau dibilang kami sering berantem, itu enggak benar,” tegasnya.

Ia secara tegas menyatakan kematian ayahnya murni akibat tekanan darah tinggi dan serangan jantung. Ia membantah semua tuduhan masyarakat yang hadir dalam pertemuan itu yang menyebutkan bahwa ayahnya dianiaya oleh anak dan cucunya.

“Saya berani bersumpah kalau kakak saya menganiaya ayah saya itu tidak benar. Saya berani bersumpah itu,” tegasnya.

Sementara itu, Kristiyono warga yang menjadi saksi di lokasi kejadian, membenarkan bahwa dirinya sempat membantu Niken berdiri usai terjatuh. Ia juga melihat sang ayah terjatuh beberapa saat kemudian.

“Saya lewat dan lihat Mbak Niken tergeletak, terus Pak K (ayahnya) minta tolong. Saya bantu mendirikan Mbak Niken, setelah itu Pak K yang jatuh,” terang Kris.

Kris menyebut hanya melihat luka di bibir K, dan tidak mengetahui pasti adanya tindak kekerasan lain.

“Yang saya lihat bibirnya berdarah. Kalau yang lain saya kurang tahu,” tambahnya.

Ia juga menyayangkan perbedaan fakta dengan pihak keluarga yang disampaikannya saat pertemuan dengan pihak pemerintah desa. Ia mengaku mendengar dengan telinganya sendiri bahwa K menyebut bahwa Niken ini dicekik oleh kakaknya.

“Yang berbeda itu cuma ini ya, yang bapaknya itu kemarin itu bilang kalau aku ini pernah dicekik, waktu itu bilang gitu anaknya (Niken) itu ada disebelahnya,” tambahnya. (bob)