Sejarah Kawasan Cukam di Malang, Ternyata Berasal dari Nama Saudagar Kaya Tionghoa

Perempatan Cukam di kawasan timur Pasar Kebalen, Kota Malang, yang disebut berasal dari nama saudagar kaya keturunan Tionghoa bernama The Tju Kam pada era 1800-an. (blok-a.com/ Berril Labiq)
Perempatan Cukam di kawasan timur Pasar Kebalen, Kota Malang, yang disebut berasal dari nama saudagar kaya keturunan Tionghoa bernama The Tju Kam pada era 1800-an. (blok-a.com/ Berril Labiq)

 

Kota Malang, blok-a.com – Kawasan Cukam yang berada di wilayah timur Pasar Kebalen, Kota Malang, ternyata memiliki kaitan erat dengan sosok saudagar kaya keturunan Tionghoa pada masa lampau. Nama kawasan tersebut disebut berasal dari seorang pengusaha bernama The Tju Kam yang dikenal sebagai juragan besar di Malang pada abad ke-19.

Sejarawan Malang, Agung Buana, menjelaskan nama Cukam berasal dari penyebutan masyarakat terhadap sosok Tju Kam yang kala itu memiliki pengaruh besar di kawasan tersebut.

“Nama Cukam itu berkaitan dengan seorang saudagar kaya Cina bernama The Tju Kam. Karena dia terkenal, akhirnya orang menyebut daerah itu dengan nama Cukam,” jelas Agung, Senin (25/5/2025).

Menurutnya, salah satu rumah milik Tju Kam berada di depan masjid kawasan Cukam, dekat warung makan yang kini dikenal masyarakat sekitar. Rumah tersebut memiliki bentuk memanjang dengan ukuran cukup besar dan sempat menjadi perhatian publik karena memiliki halaman belakang yang luas.

“Di depan Masjid Cukam itu ada rumah kuno yang merupakan salah satu rumah milik Tju Kam. Rumahnya besar dan memanjang,” lanjutnya.

Agung menyebut, Tju Kam memiliki berbagai bidang usaha yang berkembang pada masa itu. Selain memiliki usaha penginapan atau hotel, ia juga menjalankan bisnis jual beli perhiasan.

Kawasan Kebalen sendiri pada masa lampau dikenal sebagai daerah para pengrajin emas. Namun, usaha utama Tju Kam disebut berada di sektor perdagangan hasil bumi.

“Usaha paling utamanya perdagangan hasil bumi seperti beras dan sembako yang dikirim ke berbagai kota seperti Pasuruan dan Blitar,” ujarnya.

Tju Kam diperkirakan telah tinggal dan menjalankan usahanya sejak era 1800-an. Kekayaannya disebut semakin berkembang ketika jalur kereta api mulai masuk ke wilayah Malang sekitar tahun 1880-an.

“Setelah jalur kereta api masuk, usahanya makin berkembang dan dia menjadi salah satu juragan besar di kawasan itu,” terang Agung.

Meski tidak ada catatan pasti mengenai akhir kehidupannya, nama Tju Kam terus melekat di kawasan tersebut hingga sekarang. Banyak masyarakat akhirnya mengenal daerah itu dengan nama Cukam sebagai bentuk penyebutan terhadap sosok saudagar tersebut.

“Karena pengaruhnya besar dan dikenal masyarakat, akhirnya nama itu bertahan sampai sekarang,” pungkasnya. (ber/bob)