Ramaikan Museum Pendidikan, Disdikbud Kota Malang Gelar Lomba Mainan Tradisional

Ramaikan Museum Pendidikan, Disdikbud Kota Malang Gelar Lomba Mainan Tradisional
Foto-foto : Sebanyak 40 tim dari 5 Kecamatan di Kota Malang, adu kecakapan dalam ajang mainan tradisional oleh Disdikbud Kota Malang. Ada berbagai macam lomba, yakni dagongan, egrang, gobak sodor, dakon, dan lain-lain. (Foto : Widya Amalia/Blok-A)

Kota Malang, Blok-a.com – Dinas Pendidikan dan Kebudayaan (Disdikbud) Kota Malang gelar lomba mainan tradisional, pada Senin (13/11/2023) pagi, di Museum Pendidikan Kota Malang. Sebanyak 40 tim dari 5 kecamatan Kota Malang, adu kecakapan dalam ajang ini. Ada berbagai macam lomba, yakni dagongan, egrang, gobak sodor, dakon, dan lain-lain.

“Jadi memang karena konsepnya bermain bersama, kami ambil permainan tradisional yang sudah mulai ditinggalkan anak-anak,” beber Kepala Bidang Kebudayaan Disdikbud Kota Malang, Juli Handayani.

Ramaikan Museum Pendidikan, Disdikbud Kota Malang Gelar Lomba Mainan Tradisional
Foto-foto : Sebanyak 40 tim dari 5 Kecamatan di Kota Malang, adu kecakapan dalam ajang mainan tradisional oleh Disdikbud Kota Malang. Ada berbagai macam lomba, yakni dagongan, egrang, gobak sodor, dakon, dan lain-lain. (Foto : Widya Amalia/Blok-A)

Acara bermain bersama tersebut digelar selama dua hari, yakni hari Senin hingga Selasa, 13 sampai 14 November mendatang. Untuk hari pertama, lomba mainan tradisional akan ditujukan untuk murid sekolah dasar (SD) di Kota Malang. Sementara, pada hari kedua, lomba mainan tradisional ditujukan untuk siswa sekolah menengah pertama (SMP) di Kota Malang.

Ramaikan Museum Pendidikan, Disdikbud Kota Malang Gelar Lomba Mainan Tradisional
Foto-foto : Sebanyak 40 tim dari 5 Kecamatan di Kota Malang, adu kecakapan dalam ajang mainan tradisional oleh Disdikbud Kota Malang. Ada berbagai macam lomba, yakni dagongan, egrang, gobak sodor, dakon, dan lain-lain. (Foto : Widya Amalia/Blok-A)

Pada hari pertama terdaftar sebanyak 200 peserta, yang terdiri dari siswa dan siswi. Nampak, mereka beradu untuk menjadi yang terbaik dengan tim lain. Untuk persaingannya sendiri tim putri akan sama-sama beradu dengan tim putri. Begitu juga dengan tim laki-laki.

Tidak semua tim menang. Dari pantauan wartawan Blok-A, ada beberapa tim yang juga tidak berhasil memenangkan pertanding. Meski ada raut wajah kekecewaan, namun mereka diajarkan untuk suportif. Para pengajar akan segera meminta mereka bersalaman seusai bertanding.

“Ini sebenarnya pada pengenalan permainan tradisional. Jadi lombanya itu sifatnya have fun saja, intinya kegiatan dalam dua hari ini adalah pengenalan permainan tradisional, biar anak-anak ini bisa berinteraksi satu sama lain,” ujar dia.

Nantinya, setelah para peserta selesai bermain bersama, mereka bisa melaksanakan tur ke dalam Museum Pendidikan. Para siswa dan siswi akan dikenalkan pada koleksi-koleksi yang dibina langsung oleh petugas.

Hal itu bertujuan agar para siswa bisa terdidik secara karakter dengan internalisasi nilai sejarah dan tradisi.

“Kalau anak-anak itu hanya main hape, itu mereka akan cenderung ke ego. Tapi kalau ini kan (permainan tradisional) tidak. Kegotongroyongan, sosialnya, secara tim. Jadi tujuannya supaya mengenalkan budaya nenek moyangnya, dan kedua untuk mendidik karakter,” pungkasnya. (mg2/bob)