Waspada Toxic Relationship di Kalangan Mahasiswa, Ini Ciri dan Cara Mengatasinya dari Dosen FISIP UB

BKM FISIP UB Bahas Cara Move On Toxic Relationship untuk Kalangan Mahasiswa
Ketua BKM FISIP UB, Ika Fitria, M.Psi., Psikolog menjelaskan cara melepaskan diri dari toxic relationship di Seminar FISIP UB (blok-a/Widya Amalia)

 

Kota Malang, Blok-a.com – Hubungan tidak sehat atau toxic relationship pasti tidak bisa terhindarkan di tengah masyarakat. Ada beberapa orang yang berpotensi menjadi penyebab hubungan tersebut. Sementara sisanya menjadi korban dari hubungan tidak sehat.

Menurut dosen Departemen Psikologi FISIP UB, Ratri Nurwanti, S.Psi., M.Psi., Psikolog dan Ulifa Rahma, S. Psi., M.Psi, Psikolog menyebut, memang toxic relationship itu benar adanya. Terminologi toxic relationship sebenarnya merujuk pada dinamika relasi yang tidak sehat.

Toxic relationship bisa terjadi dalam hubungan keluarga, pasangan, dan pertemanan. Salah satu ciri relasi yang tidak sehat adalah adanya ketidak seimbangan kekuasaan, seperti manipulasi dan kekerasan baik secara fisik maupun emosional.

“Contohnya, seseorang memanipulasi sedemikian rupa, sehingga orang lain itu mau melakukan apa yang dia inginkan atau misalnya membuat seseorang itu merasa situasi yang tidak menyenangkan ini sebagai kesalahannya, jadi orang lain yang bertanggung jawab,” ujar Ratri Nurwanti, pada (14/11/2023).

Ada juga contoh lainnya, lanjut dia, yakni terjadinya physical abuse atau kekerasan secara fisik. Tidak menutup kemungkinan, pelaku juga melakukan kekerasan secara emosi. Contohnya seperti bentakan, hardikan, dan cemoohan.

Untuk skala besar bisa terjadi tingkat hubungan lebih lanjut. Seperti keluarga dan pernikahan. Seperti kekerasan dalam rumah tangga atau keluarga secara fisik dan mental. Sehingga, Ratri menyebutkan bahwa hubungan tidak sehat bermula dari skala kecil, seperti sepasang kekasih ketika berpacaran.

Dari kasus yang sering ditangani dan Ilmu Politik (FISIP) Universitas Brawijaya (UB), memang banyak ditemukan keluhan hubungan tidak sehat di bawah hubungan asmara. Biasanya, menyangkut kekerasan fisik hingga finansial. Hal itu patut menjadi perhatian bagi mahasiswa.

Untuk mengatasinya, Ulifa Rahma menjelaskan, ada tiga strategi utama untuk menghindari hubungan toksik. Seperti memahami diri sendiri dan lingkungan sekitar, menetapkan batasan dalam hubungan, dan mencari dukungan yang positif.

“Individu harus memahami dirinya dengan baik, mengenali kelebihan dan kekurangannya, serta memahami dinamika lingkungan sekitarnya,” ungkap dia.

Pengenalan tersebut harus dilakukan untuk memenuhi kebutuhan individu terlebih dahulu sehingga tidak ketergantungan dengan aspek lain. Seperti menemukan bakat, minat, dan kesukaan dalam diri.

Pentingnya menetapkan batasan dalam hubungan yang membuat tidak nyaman juga sangat penting. Kebanyakan, sering ditemukan kepribadian yang sulit mengatakan “tidak” atau sekadar menolak.

Menurutnya, menetapkan batasan bukan berarti menerima toxic relationship terjadi, tetapi wujud menyelesaikan masalah untuk meninggalkan situasi yang tidak sehat dengan cara yang baik.

“Setelah melakukan self-care, dan menghindari hubungan toksik bisa mencari bantuan profesional apabila diperlukan. Juga bisa dilakukan dengan mencari bantuan lingkungan positif lainnya untuk bisa terhindar dari hubungan toksik,” pungkas dia. (mg2/bob)