Pengamat Politik Sayangkan Niat Golput Keluarga Korban Tragedi Kanjuruhan

Pengamat Politik Sayangkan Niat Golput Keluarga Korban Tragedi Kanjuruhan
Keluarga Korban Tragedi Kanjuruhan berdoa di Stadion Kanjuruhan (blok-a/Putu Ayu Pratama S)

 

Kabupaten Malang, blok-a.com – Menanggapi riuhnya seruan golongan putih (golput) terutama dari keluarga korban Tragedi Kanjuruhan, Pengamat Politik, Zen Amirudin menyayangkan hal tersebut.

Pengamat politik Universitas Muhammadiyah Malang (UMM) itu memaknai, golput merupakan bentuk sikap yang kurang baik dalam kontestasi politik.

“Saya menyebutkan, bahwa golput ini merupakan pilihan sikap dalam kontek demokrasi tentu tidak bagus, terlepas dari alasan apapun dari pemilih,” ujar Zen kepada Blok-a.com belum lama ini.

Dalam alam demokrasi, lanjut Zen, rakyat memang memiliki hak otoritas untuk keberlangsungan proses demokrasi itu sendiri. Atau dengan kata lain, kedaulatan ada di tangan rakyat.

Namun, ketika rakyat memilih untuk tidak memilih alias golput, maka hal tersebut dapat dimaknai sebagai bentuk menciderai proses demokrasi itu sendiri.

“Seluruh kedautalan di tangan rakyat, rakyatlah yang berkuasa untuk menentukan atau tidak menentukan. Ketika keputusannya adalah tidak menentukan alias golput, maka sebenarnya ini akan menciderai dari proses demokrasi itu sendiri,” ujarnya.

Mengapa golput disebut menciderai demokrasi ?

Pria yang menjabat sebagai Dosen di Fakultas Komunikasi UMM, ini menjelaskan, sejauh ini Indonesia menganut sistem politik yang mana golput tidak memberikan dampak dari representasi suara yang ada.

“Karena sekalipun yang golput itu separuh dari jumlah pemilih, maka dari sistem politik yang kita anut biarpun separuh atau 50 persen itu tetap akan mampu merepresentasikan dari jumlah pemilih yang ada,” jelasnya.

Caption : Pengamat Politik Universitas Muhammadiyah Malang (UMM) Zen Amirudin (Dok. Pribadi for Blok-a.com)
Caption : Pengamat Politik Universitas Muhammadiyah Malang (UMM) Zen Amirudin (Dok. Pribadi for Blok-a.com)

“Misal, jumlah pemilih keseluruan satu juta, sementara golputnya 500 ribu. Maka, 500 ribu sisanya akan dikontestasikan meskipun pemilih pemanangnya hanya 200, maka 200 ini akan mewakili dari yang satu juta itu tadi. Jadi sistem kita kan begitu,” lanjutnya.

Untuk itu, Zen sapaan akrabnya, sangat menyayangkan adanya gerakan golput  dari keluarga korban Tragedi Kanjuruhan yang dimungkinkan akan terjadi di Pemilihan Umum (Pemilu) yang akan datang.

“Menurut saya, dalam pandangan saya sebagai akademisi, sedapat mungkin menggunakan haknya untuk ke bilik suara dan menuntukan pilihannya,” kata Zen.

Di sisi lain, ia juga memahami kondisi sosial yang tengah terjadi di masyarakat. Seperti, seruan golput sebagai bentuk ekspresi kekecewaan atas lemahnya penegakan hukum pada kasus tragedi kanjuruhan.

Kendati demikian, menurutnya golput bukan pilihan yang tepat untuk menuntaskan tragedi kemanusiaan yang menelan setidaknya 135 nyawa itu.

Justru dengan adanya proses demokrasi, menurutnya ini merupakan momentum yang tepat untuk memcari calon legislatif (Caleg) maupun Calon Presiden dan Calon Wakil Presiden (Cawapres) yang dapat menyuarakan permasalahan yang belum tuntas.

“Sehingga menurut saya, siapapun itu jangan golput, justru bagaimana bisa memanfaatkan kontestasi politik dan peluang di 2024 ini untuk mengusung calon2 yang memiliki visi keberpihakan oleh misal orang2 yang kemarin terciderai oleh proses hukum di kanjuruhan,” pungkasnya. (ptu/bob)