Cerita Tukang Becak di Malang, Menggantungkan Hidup dari Sedekah

Cerita Tukang Becak di Malang, Menggantungkan Hidup dari Sedekah
Bambang, tukang becak di Kota Malang (blok-a.com/Bob Bimantara Leander)

Kota Malang, blok-a.com – Kehidupan tak selalu manis. Kadang pahit. Tapi untuk memaknainya adalah tergantung diri kita untuk memaknainya sebagai kebahagiaan atau tidak.

Hal ini seperti terjadi pada tukang becak listrik, Bambang (57) yang mangkal di sekitaran DPRD Kota Malang.

Tampak ia duduk menunggu pelanggan yang tak kunjung datang. Bambang menunggu pelanggan berjejer dengan tukang becak lainnya yang juga tak dapat penumpang.

“Hari ini belum ada penumpang mas,” kata dia ditemui, Rabu (4/3/2026).

Pria asal Dampit ini memang sudah terbiasa hanya menunggu penumpang. Bahkan akhir-akhirnya 3 hari pun hanya ada satu penumpang yang datang untuk menggunakan jasanya. Pendapatannya hanya Rp 15 ribu untuk 3 hari itu.

“Wes biasa mas. Semua becak ya gak nentu gini. Kadang sehari itu gak ada, akhir-akhir ini 3 hari baru satu penumpang saja,” kata dia.

Dia sebenarnya berharap dengan bantuan becak listrik dari Presiden Prabowo ini mampu meningkatkan penghasilannya. Namun kenyataannya berbeda. Orang-orang ternyata lebih tertarik untuk naik ojek online.

“Ternyata sama saja. Penumpang meskipun dekat stasiun lebih memilih online (Ojol) itu mas,” tambahnya.

Ia beralasan, orang lebih memilih Ojol karena tarifnya lebih murah dan jelas. Sementara tarifnya hanya untuk ke Kayutangan dari gedung DPRD Kota Malang Rp 15 ribu. 

“Kalau kami becak masih nyang-nyangan. Kalah sama Ojol,” kata dia.

Sementara untuk hidup sehari-harinya, ia mengaku tak cukup hanya dengan narik becak listrik ini. Bambang dan tukang becak lainnya di sekitar Alun-alun Tugu Malang sudah terbiasa hidup dengan pemberian makanan dari pengendara orang lain. Biasanya ada sepeda motor dan mobil memberinya nasi bungkus, sembako, bahkan amplop berisi uang.

“Apalagi bulan puasa gini, ya bukannya ngemis. Ya makannya itu dari dikasih. Kadang sembako, nasi, biasanya juga amplop,” kata dia.

Namun bapak satu anak ini mengatakan, tidak setiap hari ada orang baik yang memberi para tukang becak termasuk dirinya. Jika tidak ada, dia nekat utang dulu ke warung dekat ia mangkal.

“Ya pokoknya bisa untuk ngopi sama rokok ngecer alhamdulillah. Pokok saya gak nyolong saja alhamdulillah mas,” ujarnya.

Ia pun sudah lama tidak pulang ke Dampit, Kabupaten Malang, rumahnya berada. Sebab untuk ongkos ke sana tidak ada.

Untuk itu, ia kerap tidur di becaknya yang berada di sekitaran Alun-alun Tugu Malang. 

“Itu bukan saya saja banyak malam-malam yang gak pulang ya banyak. Coba malam lihat,” jelasnya.

Ia pun dengan kehidupan yang sekarang bersyukur. Ia cuma berharap bisa terus hidup dan mengais rejeki meskipun terlampau jauh untuk dikatakan sejahtera.

“Ya semua disyukuri saja mas. Pokok saya bisa rokokan sudah bersyukur. Anak ya sudah mandiri sudah nikah,” tutupnya. (bob)