Pro Kontra Maraknya Bahasa Panggilan Lo Gue di Kota Malang, Ini Kata Antropolog

Ilustrasi : Komunikasi sehari-hari menggunakan gaya bahasa Lo Gue diminati anak muda untuk cicipi pergaulan ibukota. (Foto : Widya Amalia/Blok-A)
Ilustrasi : Komunikasi sehari-hari menggunakan gaya bahasa Lo Gue diminati anak muda untuk cicipi pergaulan ibukota. (Foto : Widya Amalia/Blok-A)

 

Kota Malang, Blok-a.com – Mencuatnya isu terkait panggilan Lo dan Gue yang tengah digandrungi anak muda di Kota Malang memang tengah jadi perhatian.
Ternyata, gaya bahasa atau panggilan Lo dan Gue  tersebut sudah menjadi bagian dari pertumbuhan komunikasi sosial di tengah muda-mudi di Kota Malang. Di Universitas Brawijaya sendiri, fenomena tersebut sudah lama terjadi.

Faktor utamanya adalah UB sendiri memang diserbu oleh mahasiswa asal jabodetabek (Jakarta-Bogor-Depok-Tangerang-Bekasi). Sementara, ‘lo gue’ itu adalah bahasa khas jabodetabek. Beberapa mahasiswa dari wilayah Jawa Timur dan sekitarnya pun mulai bisa berbicara mirip dengan orang jabodetabek.

Namun, hal tersebut menimbulkan pro kontra di kalangan masyarakat penutur bahasa ibu Kota Malang. Pasalnya, memang muncul banyak sekali bentuk tidak suka bagi penutur bahasa jabodetabek.

Bahkan, dalam postingan instagram Blok-A.com yang membahas fenomena bahasa baru-baru ini, banyak sekali komentar ketidaksetujuan.

“UMAK AYAS IKU AE WES KIPA KER..CEK KETOK LEQ UMAK ASLI NGALAM😁” tulis @Pakleknoel.

“Elu udah nakam gaes? Taek!! Malang iku yo ayas umak ta jes. Wong malang sng kakean lo gue mentolo tapok cangkeme. Tuku lalapan psen tahu tempe ae lo gue.” tulis @desain.galau

“malang iku yo ‘KOEN” ‘AWAKMU’” komentar @aldoputra_

Namun, bentuk komentar tersebut merupakan hal yang wajar. Hal itu disampaikan oleh Dosen Antropologi Fakultas Ilmu Budaya Universitas Brawijaya (FIB UB), Dr. Hipolitus K. Kewuel. Dia menyebut, fenomena perubahan budaya memang kerap kali menimbulkan pro dan kontra.

“Wajar, karena pasti ditanggapi oleh orang yang memang pada posisi mementingkan identitas lokal,” ujar dosen pengampu mata kuliah pluralisme ini.

Dalam fenomena ini, ada sekelompok orang yang mengikuti globalisasi. Namun, beberapa kelompok lain berusaha mempertahankan identitasnya. Dia mewajarkan hal tersebut karena masyarakat Kota Malang berusaha untuk mempertahankan identitas kearifan lokal bahasanya.

Kota Malang, lanjut dia, memang identik dengan bahasa walikannya. Sebagai informasi, memang Kota Malang memiliki ciri khas ‘bahasa gaul’ tersendiri yakni dengan membalikkan bahasa. Seperti kamu menjadi “umak” lalu kawan menjadi “nawak” dan lain sebagainya.

Respon adanya bahasa gaul seperti “lo” untuk sebutan kamu dan “gue” untuk saya, memang bisa menimbulkan respon penolakan terhadap sekelompok masyarakat yang bersikukuh soal identitas.
Namun, globalisasi merupakan hal yang wajar dan terjadi begitu saja tanpa dipaksakan. Sehingga, dia menyebut memang masyarakat harus menyiapkan mental untuk fenomena kebudayaan lain. Pasalnya, demografi di Kota Malang saat ini memang dinamis dan tumbuh begitu cepat.

“Saya kira itu (globalisasi) terjadi dimanapun. Dan kelompok yang selalu tarik ulur. Ada yang merasa biasa aja no problem. Kita harus menyiapkan diri kita untuk berhadapan dengan fenomena (perubahan budaya) semacam itu. Yang bahkan mungkin kita benci,” pungkas dia. (mg2/bob)