Siswa MTs di Blitar Meninggal Dunia, RSUD Srengat Dinilai Lamban

RSUD Srengat Kabupaten Blitar. (blok-a.com/Fajar)
RSUD Srengat Kabupaten Blitar. (blok-a.com/Fajar)

Blitar, blok-a.com – Kematian siswa MTs Plus Al-Mahmud usai terkena lemparan kayu berpaku, diduga juga disebabkan buruknya pelayanan di Rumah Sakit Umum Daerah (RSUD) Srengat Kabupaten Blitar.

Korban K (14) yang mengalami luka serius di kepala dilarikan ke Instalasi Gawat Darurat (IGD) RSUD Srengat pada pukul 07.00 WIB. Saat itu, korban dalam kondisi pendarahan hebat.

Namun, menurut salah satu ustaz yang mengantar ke rumah sakit, bukannya segera mendapatkan perawatan, tim medis IGD terlihat sibuk berdiskusi terkait kondisi pasien yang kritis.

Sehingga korban tidak mendapatkan perawatan yang memadai selama hampir 7 jam.

Akhirnya, pada pukul 14.00 WIB, korban dirujuk ke RSUD Pare Kediri, karena pihak RSUD Srengat tidak sanggup menangani kondisi korban. Meski telah dirujuk, namun nyawa korban tidak dapat diselamatkan.

Ustaz tersebut mengaku kecewa terhadap lambannya penanganan pihak RSUD Srengat.

“Seandainya pihak rumah sakit memberikan tindakan dan pelayanan lebih awal, kemungkinan besar nyawa korban bisa diselamatkan,” keluh ustaz tersebut.

Pihak RSUD Kabupaten Kediri yang menerima rujukan korban juga menyayangkan penanganan medis yang terlambat dari RSUD Srengat.

Mereka menilai bahwa korban sudah dalam kondisi yang sangat parah sejak pagi namun belum mendapatkan pertolongan medis yang seharusnya.

“Kondisi korban seperti ini tidak memungkinkan untuk dilakukan operasi. Mestinya di rumah sakit Srengat korban sudah mendapatkan pertolongan pertama,” jelas salah satu tim medis RS Kediri yang disampaikan ustaz tersebut.

Menanggapi tudingan lambannya pelayanan, Direktur RSUD Srengat, dr. Baihaqi, mengatakan, bahwa tim IGD sudah berupaya melakukan penanganan sesuai prosedur darurat.

“IGD RS Srengat melakukan upaya penanganan kegawatdaruratan. Bila harus rujuk diupayakan untuk stabilisasi transportable pasien. Sehingga dalam rujukan mempertimbangkan transportable atau tidak transportable pasien,” kata dr. Baihaqi.

Baihaqi juga membenarkan jika kedatangan korban sekitar pukul 07.00 WIB dan dirujuk ke Rumah Sakit Kabupaten Kediri pukul 14.00 WIB.

“Kedatangan pasien diperkirakan pukul 07.00 WIB mas, dirujuk ke Rumah Saki Kediri sekitar pukul 14.00 WIB,” pungkasnya.

Sebelumnya diberitakan, korban diduga dilempar kayu berpaku oleh salah satu ustaz atau tenaga pengajar sekaligus kerabat pemilik yayasan MTS Plus tersebut.

Menurut keterangan salah satu tenaga pengajar, pelemparan diduga dilakukan karena korban kedapatan masih nongkrong dengan teman-temannya saat memasuki waktu Sholat Dhuha.

“Masuk waktu Dhuha, anak-anak masih main badminton. Mungkin emosi atau apa. Katanya bermaksud melempar ke tanah, agar bubar. Ternyata malah kena kepala siswa,” kata salah satu tenaga pengajar, Jumat (27/09/2024).

Akibatnya, paku yang berada di kayu tersebut mengenai dan menancap di bagian belakang kepala korban, hingga seketika tak sadarkan diri.

Saat ini, kasus kematian siswa MTs Plus Al-Mahmud akibat pelemparan kayu berpaku tersebut sedang dalam penyelidikan lebih lanjut Polres Blitar Kota. (jar/lio)