Kota Malang, blok-a.com – Sebanyak 200 pengemudi becak di Kota Malang menerima bantuan becak listrik dari Presiden RI yang disalurkan melalui Yayasan Gerakan Solidaritas Nasional (GSN) bekerja sama dengan Pemerintah Kota Malang. Bantuan ini disambut antusias para penarik becak yang selama ini mengandalkan tenaga fisik untuk bertahan hidup.
Salah satu penerima bantuan, Imam (65), warga Arjowinangun, mengaku sangat bersyukur menerima becak listrik tersebut. Selama hampir dua tahun terakhir, ia bekerja menggunakan becak motor (bentor) dengan sistem sewa harian.
“Dulu pakai bentor harus sewa. Kalau ada pelanggan jarak sekitar lima kilometer biasanya dibayar Rp15 ribu,” ujar Imam, Selasa (20/1/2026).
Imam mengatakan, dengan becak listrik ia tidak perlu lagi mengeluarkan biaya sewa maupun setoran. Selama ini, ia hanya melayani penumpang langganan, khususnya antar-jemput sekolah, dengan jumlah sekitar lima hingga enam orang.
“Sekarang lebih ringan. Nggak nyewa bentor lagi, nggak ada setoran,” katanya.
Ia menjelaskan, becak listrik memiliki kapasitas baterai lima strip dengan jarak tempuh sekitar 15 kilometer. Untuk pengisian penuh baterai, membutuhkan waktu sekitar tujuh jam.
“Meskipun nanti harus ngecas di rumah, nggak masalah. Harapannya penghasilan bisa nambah, minimal jadi Rp25 ribu sehari,” ucapnya.
Cerita serupa disampaikan Muchtar, warga Muharto yang juga menerima bantuan. Sejak awal, ia memang berprofesi sebagai tukang becak dengan sistem setoran.
“Saya pengemudi becak pancal, dengan sistem Tapi setoran, becaknya yang punya anak saya,” katanya.
Muchtar mengaku awalnya tidak mengetahui secara detail soal bantuan becak listrik tersebut. Ia baru mengetahui setelah dihubungi dan diminta membawa KTP serta kartu keluarga untuk proses pendataan.
“Kemarin jam tiga sore ditelepon, disuruh bawa KTP sama KK, terus ngajuin ke Plengkung,” ujarnya.
Soal penghasilan, Muchtar menyebut pendapatan sebagai tukang becak tidak menentu. Dalam sehari, ia terkadang hanya mendapat satu hingga dua penumpang dengan penghasilan sekitar Rp10 ribu hingga Rp20 ribu.
“Jujur, saya ini kadang-kadang dapat satu kali sepuluh ribu, dan kisaran sehari itu dua puluh ribu. Terus terang Pak, saya lillahi ta’ala,” kata Muchtar.
Terkait tarif, Muchtar berharap ke depan ada perhatian dari pemerintah, termasuk kemungkinan pengembangan becak wisata di kawasan rekreasi agar pengemudi becak tetap memiliki pendapatan di tengah persaingan transportasi online.
“Sekarang kalah sama ojek online semua. Kalau ada becak wisata keliling, ya alhamdulillah, saya hanya berserah,” tutupnya.
Sebagai informasi, bantuan becak listrik tersebut merupakan tahap awal dari program nasional yang akan berlanjut hingga 2027 dan diprioritaskan bagi pengemudi becak lansia serta masyarakat berpenghasilan rendah. (ber/bob)








