Dengan Gaji Tak Seberapa, Ini Cara Ngajar Guru PAUD di Kota Malang

Foto foto : Suasana pembelajaran Pos PAUD Menur, Kelurahan Polehan, Kecamatan Blimbing, Kota Malang. (foto : Pos PAUD Menur untuk Blok-A)
Foto foto : Suasana pembelajaran Pos PAUD Menur, Kelurahan Polehan, Kecamatan Blimbing, Kota Malang. (foto : Pos PAUD Menur untuk Blok-A)

Kota Malang, Blok-a.com – Profesi guru Pendidikan Anak Usia Dini (PAUD) masih dianggap sebelah mata. Bahkan, banyak guru PAUD yang masih belum mendapatkan gaji layak. Meski demikian, hal itu sudah dianggap biasa oleh sebagian guru PAUD. Hal itu juga disampaikan oleh Nurmalia Imran, seorang Kepala Sekolah Pos Menur, Kelurahan Polehan, Kecamatan Blimbing, Kota Malang.

Nunung, sapaannya, menyebut memang banyak guru PAUD yang overload pekerjaan namun dengan gaji minim. Bahkan, bagi guru PAUD di Kota Malang sendiri tidak menganggap uang pendapatan mengajar sebagai gaji. Namun hanya insentif saja yang diberikan oleh Pemerintahan Kota Malang saja melalui Dinas Pendidikan. Sementara, untuk guru PAUD honorer mendapatkan insentif dari sekolah yang tidak banyak.

“Jadi memang kalau profesi kami itu lebih banyak ke sosialnya, memang untuk ‘menghidupkan kompor’ di dapur ya kurang. Jadi untuk guru tetap seperti kami dapat insentif, sedangkan honorer ya dapat tapi dari sekolah. Itu juga, kami SPP sekolah hanya Rp 60 ribu sebulan,” jelas Nunung, pada Rabu (8/11/2023).

Di Pos PAUD Menur sendiri, jumlah siswanya tidak terlalu banyak. Untuk semester ini, jumlah siswa hanya 25 anak yang terbagi menjadi tiga kelas. Yakni kelas A untuk anak usia 2 hingga 3 tahun, lalu kelas B untuk usia 3 hingga 4 tahun, dan kelas C untuk usia 4 hingga 6 tahun.

“Uang SPP-nya kami kelola untuk kebutuhan ajar mengajar di kelas seperti krayon, kertas, buku, dan lain-lainnya itu semua dari kami. Jadi anak tinggal bawa bekal saja dan tas,” jelas ibu 4 anak ini.

Para guru PAUD tetap juga harus beradaptasi dengan kurikulum merdeka yang baru-baru ini sedang diterapkan. Hal itu berbeda dengan kurikulum K13 yang sebelumnya berlaku. Sehingga, banyak pekerjaan di sekolah yang harus dibawa hingga ke rumah.

Salah satu penerapannya adalah bagaimana memicu kreativitas peserta didik dengan media permainan dari botol bekas. Nunung dan para rekan guru setiap hari harus mencari botol bekas. Kemudian, mereka merancang perencanaan pembelajaran setiap harinya. Pada keesokan harinya, di sekolah para guru akan memancing kreativitas murid dengan imajinasi.

“Seperti mereka membuat rumah lalu ada garasinya. Nah nanti pasti ada murid yang bertanya ‘Bu ini bagaimana ya pintu garasinya?’ lalu kita bilang ‘Oh nanti mobilnya lewat mana kalau garasinya ditutup? Coba pindah ke sini’ Lalu mereka (murid) akan muncul jawaban ‘Oh iya pintunya bisa di sini, bisa di sini,’ begitu,” bebernya.

Para guru juga harus menyediakan kebutuhan ajar yang sesuai dengan masing-masing siswa. Menurut kurikulum merdeka, acuan pembelajaran siswa bukan dari guru melainkan dari siswa itu sendiri. Sehingga apabila kebutuhan ajar berbeda maka masing-masing guru harus membuat perencanaan ajar pada tiap anak.

“Jadi kalau andaikan 10 anak di kelas itu kebutuhan ajarnya berbeda ya gurunya harus bisa menyiapkan masing-masing bahan ajar 10 jenis,” ujarnya.

Meski proses ajar mengajar mulai pukul setengah 8 hingga 10 pagi, namun para guru PAUD harus siap siaga hingga 1 atau 2 siang untuk menyiapkan pembelajaran esok hari. Meski demikian, Nunung memilih untuk tidak mengindahkan rasa lelahnya.

“Kadang kami mikir ‘Sesuk ngajar materi opo yo?’ sambil makan bakso, dibawa senang saja,” pungkas dia sambil tertawa. (mg2/bob)