Kekurangan Murid, Pemkab Malang Bakal Merger Sejumlah Sekolah

Bupati Malang, HM Sanusi saat berbincang dengan siswi SMPN 1 Turen (blok-a.com / Yogga Ardiawan)
Bupati Malang, HM Sanusi saat berbincang dengan siswi SMPN 1 Turen (blok-a.com / Yogga Ardiawan)

Kabupaten Malang, blok-a.com – Pemerintah Kabupaten (Pemkab) Malang berencana melakukan penggabungan (merger) sejumlah sekolah yang jumlah siswanya minim, khususnya sekolah dengan rombongan belajar (rombel) di bawah 20 siswa per kelas. Kebijakan ini dilakukan sebagai solusi atas keterbatasan tenaga pendidik sekaligus untuk menjaga kualitas pendidikan.

Bupati Malang HM Sanusi mengatakan, sekolah-sekolah dengan jumlah murid terlalu sedikit akan dievaluasi dan dibahas dalam tim merger untuk kemudian digabungkan dengan sekolah yang lebih besar.

“Yang satu kelasnya kurang dari 20 nanti kita merger. Karena sekarang pemerintah kekurangan guru. Gurunya cuma satu yang PNS, yang lain guru P3K, dan sudah tidak boleh mengangkat honorer lagi, sehingga tenaga pengajarnya kurang,” ujar Sanusi.

Menurutnya, apabila kondisi tersebut dibiarkan, justru akan berdampak pada peserta didik. Kualitas pembelajaran dinilai tidak akan optimal jika jumlah murid sedikit dan tenaga pengajar terbatas.

“Kalau dibiarkan begitu, nanti korbannya anak itu. Kualitasnya tidak bagus. Kalau nilainya di bawah 7, kualitas SDM ke depan juga tidak bagus,” tambahnya.

Sementara itu, Kepala Dinas Pendidikan Kabupaten Malang Bagus Sulistyawan menyatakan pihaknya siap menindaklanjuti arahan Bupati dan segera menyusun mekanisme penggabungan sekolah sesuai kriteria yang berlaku.

“Ini merupakan petunjuk pimpinan. Kami akan segera tindak lanjuti. Salah satu kriterianya memang jumlah peserta didik yang tidak memenuhi persyaratan, rombel-nya kurang dari batas ambang,” jelas Bagus.

Ia menambahkan, proses merger akan dilakukan dengan sejumlah pertimbangan, di antaranya kesamaan jenjang pendidikan serta jarak antar sekolah yang tidak terlalu jauh.

“Sekolah yang digabungkan jenjangnya harus sejenis, misalnya SD dengan SD. Selain itu, letaknya juga tidak terlalu jauh. Nanti akan kita bahas bersama tim teknis,” katanya.

Terkait jumlah sekolah yang akan dimerger, Bagus menyebut saat ini masih dalam tahap pendataan dan pembahasan. Ia berjanji akan segera melakukan proses pembahasan demi kelancaran belajar bagi para murid.

“Belum ada jumlah paten. Yang jelas, sesuai arahan Bapak Bupati, akan segera kita sesuaikan dan kita bahas, karena pertimbangannya bukan hanya jumlah murid, tapi juga keterbatasan tenaga pendidik,” pungkasnya. (yog/bob)