Malang, blok-a.com — Politeknik Universitas Islam Malang (Unisma) kembali menegaskan posisinya sebagai perguruan tinggi vokasi yang adaptif, inovatif, dan berorientasi pada dampak melalui pelaksanaan Wisuda Periode ke-23, Sabtu (13/12/2025). Momen tersebut menandai kelulusan mahasiswa, dan juga awal kontribusi lulusan Polisma di dunia kerja, industri, dan masyarakat.
Direktur Politeknik Unisma, Moh. Sulhan, menyampaikan bahwa keberadaan Politeknik Unisma merupakan bagian dari sejarah panjang gagasan para tokoh, ulama, dan pendiri Unisma di Kota Malang. Gagasan tersebut diprakarsai Prof. KH. Tholchah Hasan dengan visi membangun pendidikan vokasi yang mandiri, berkualitas, dan relevan dengan kebutuhan dunia kerja.
Secara kelembagaan, Politeknik Unisma berdiri pada 28 Januari 2002 berdasarkan SK Mendiknas Nomor 19/D/O/2002, hasil kolaborasi antara Yayasan Unisma dan PT PLN (Persero) UDIKLAT Pandaan. Sejak awal, arah pengembangannya difokuskan pada penguatan keterampilan praktis, peningkatan kompetensi, serta kesiapan lulusan menghadapi dinamika industri.
Saat ini, Politeknik Unisma menyelenggarakan pendidikan pada jenjang Diploma III (D3) untuk Program Studi Teknik Mesin dan Teknik Listrik, serta Diploma IV/Sarjana Terapan (D4) pada Program Studi Teknologi Rekayasa Komputer Jaringan (TRKJ). Selain itu, kampus ini tengah memproses pembukaan tiga program studi baru, yakni Rekayasa Perancangan Mekanik (RPM), Teknologi Rekayasa Otomasi (TRO), dan Keperawatan Anestesiologi, sebagai respons atas kebutuhan industri dan layanan kesehatan yang terus berkembang.
Menurut Sulhan, pendidikan vokasi memiliki posisi strategis dalam sistem pendidikan nasional, sejalan dengan kebijakan revitalisasi vokasi yang bertujuan menyiapkan sumber daya manusia unggul, produktif, dan berdaya saing menuju Indonesia Emas 2045.
“Dengan karakteristik pendidikan vokasi, Politeknik Unisma harus mampu menghadirkan layanan pembelajaran yang konkret dan inovatif, sekaligus menghasilkan penelitian terapan yang memberikan dampak nyata bagi masyarakat,” ujarnya.
Ia menambahkan, Politeknik Unisma tidak hanya berorientasi pada pencetakan lulusan siap kerja, tetapi juga menyiapkan lulusan yang mampu menjadi teknopreneur, memiliki kreativitas, daya adaptasi, dan keunggulan kompetitif sesuai bidang keahliannya. Komitmen tersebut diwujudkan melalui penerapan Project Based Learning–Teaching Factory (PBL–TEFA) sebagai model utama pembelajaran.
Dalam rentang 2023–2025, Politeknik Unisma mencatat berbagai capaian, mulai dari perolehan hibah penelitian dan pengabdian kepada masyarakat dari Kemendikbudristek dan Kemdiktisaintek hingga pengembangan riset terapan di bidang teknologi pengolahan pangan, kecerdasan buatan (AI), sistem hidroponik berbasis IoT, serta digitalisasi bank sampah. Total pendanaan yang diperoleh mencapai miliaran rupiah.
Selain itu, Politeknik Unisma juga meraih Program Optimasi Kemitraan Perguruan Tinggi Vokasi dan Dunia Usaha/Dunia Industri (PTV–DUDI), serta menerima Anugerah Kampus Unggulan LLDIKTI Wilayah VII Tahun 2025 pada kategori Kinerja Penelitian dan Pengabdian kepada Masyarakat. Capaian tersebut menegaskan bahwa Polisma tidak hanya fokus pada proses pembelajaran, tetapi juga pada kontribusi nyata bagi masyarakat dan pembangunan daerah.
Sejalan dengan kebijakan Perguruan Tinggi Berdampak dari Kementerian Pendidikan Tinggi, Sains, dan Teknologi, Politeknik Unisma menegaskan komitmennya untuk terus membangun ekosistem pendidikan vokasi yang adaptif, inklusif, dan berkelanjutan.
Melalui kolaborasi dengan dunia usaha dan industri, hilirisasi riset, serta penguatan Teaching Factory, Politeknik Unisma diharapkan mampu menjadi penggerak transformasi sosial dan ekonomi di wilayahnya. (bob)








