Kuburan Londo Malang Kehilangan Pamor, Padahal Simpan Banyak Jejak Sejarah

Suasana kuburan londo yang pernah menjadi salah satu destinasi wisata di Kota Malang (blok-a.com / Yogga Ardiawan)
Suasana kuburan londo yang pernah menjadi salah satu destinasi wisata di Kota Malang (blok-a.com / Yogga Ardiawan)

Kota Malang, blok-a.com – Tempat Pemakaman Umum (TPU) Sukun atau yang lebih dikenal sebagai Kuburan Londo kini nyaris kehilangan pamornya sebagai destinasi wisata sejarah di Kota Malang. Padahal, kawasan pemakaman peninggalan era kolonial Belanda itu pernah menjadi primadona bagi wisatawan, terutama pecinta sejarah.

Kompleks makam yang didirikan pemerintah kolonial Belanda pada 1920 saat masa Boueplan III tersebut menyimpan banyak jejak sejarah. Sejumlah tokoh penting dimakamkan di lokasi ini, mulai dari pendiri RS Lavalette, pendiri Sekolah Pendeta Balewiyata, hingga makam Mami Dolly yang dikenal sebagai tokoh pendirian lokalisasi di Surabaya.

Selain nilai sejarahnya, Kuburan Londo juga memiliki daya tarik arsitektur khas Eropa. Berbagai ornamen peninggalan Belanda seperti patung malaikat hingga makam berbahan marmer asli masih dapat ditemukan di kawasan tersebut.

Namun kini, jejak sejarah itu seolah ikut terkubur dan perlahan dilupakan.

Bagian Publikasi dan Humas Kelompok Sadar Wisata (Pokdarwis) Kuburan Londo, Hariani, mengatakan aktivitas pengembangan wisata di kawasan tersebut praktis terhenti sejak pandemi Covid-19.

“Saat ini kondisinya memang masih mati suri. Belum ada aktivitas untuk pengembangan potensi wisatanya,” ujarnya, Kamis (12/3/2026).

Padahal sebelumnya, berbagai program wisata sempat digelar dan mendapat sambutan besar dari pengunjung. Salah satunya konsep Dark Tourism, yakni wisata sejarah yang dilakukan pada malam hari dengan menjelajahi kompleks pemakaman sambil mendengarkan kisah-kisah masa lalu.

Program tersebut bahkan sempat menjadi daya tarik utama hingga Pokdarwis membuka tiga sesi kunjungan dalam satu kegiatan.

“Untuk Pokdarwis sendiri, mulai dari pandemi hingga saat ini belum ada pergerakan. Anggota yang masih aktif satu-satunya adalah saya. Cukup disayangkan, potensi wisata sejarah yang memiliki banyak cerita harus stagnan,” keluhnya.

Meski demikian, sejumlah pengunjung masih sesekali datang, terutama kalangan mahasiswa dan pecinta sejarah. Salah satu daya tarik yang sering memicu rasa penasaran pengunjung adalah makam dengan simbol jangka dan penggaris segitiga yang identik dengan organisasi Freemason.

Di nisan tersebut tertulis nama DR. Eyken dan Allaris.

“Hingga saat ini masih ada mahasiswa yang berkunjung. Terus juga sekitar 8 bulan lalu saya kolaborasi dengan Jelajah Malang mengekspor Kuburan Londo dengan cerita-cerita sejarah di dalamnya,” jelas penulis Trilogi Jelajah Kuburan Londo itu.

Menurut Hariani, mati surinya wisata Kuburan Londo bukan karena tidak ada niat untuk mengembangkan, melainkan minimnya koordinasi antar pihak yang memiliki kewenangan.

Ia menilai pengelolaan kawasan tersebut membutuhkan sinergi antara Kelurahan Sukun, Pokdarwis, UPT Pengelolaan Pemakaman Umum, serta Dinas Kepemudaan, Olahraga, dan Pariwisata (Disporapar) Kota Malang.

“Menurut saya, matinya wisata Kuburan Londo ini karena tidak ada yang mengelola. Butuh koordinasi untuk membahas apakah destinasi wisata Kuburan Londo ini akan terus dikembangkan atau tidak. Jadi perlu komitmen bersama,” tegasnya.

Padahal, gerbang Kuburan Londo telah ditetapkan sebagai salah satu bangunan cagar budaya di Kota Malang. Hariani berharap kawasan tersebut dapat kembali ditata dan dikembangkan sebagai destinasi wisata sejarah dan edukasi.

“Saya pribadi ada rencana untuk mengaktifkan kembali. Tapi perlu dukungan karena kalau sendiri sangat berat. Kita ambil nilai-nilai kesejarahannya, potensinya dan edukasinya. Bukan hanya sebagai tempat perkuburan semata,” pungkasnya. (yog/bob)