Kota Malang, Blok-a.com – Universitas Brawijaya (UB) kembali kukuhkan dua profesor luar biasa pada Rabu (06/12/2023). Pengukuhan itu dilakukan pada profesor Fakultas Perikanan dan Ilmu Kelautan (FPIK) serta Fakultas Teknik (FT) UB. Prof. Dr. Ir. Anik Martinah Hariati, M.Sc., dan Prof. Dr. Eng. Donny Harisuseno, S.T., M.T.,
Pengukuhan tersebut dilakukan atas giat Prof. Dr. Ir. Anik Martinah Hariati, M.Sc. yang lakukan penelitian tentang ‘Inovasi dalam Teknologi Sinbiotik Berbasis Spora’.
Profesor aktif ke-20 di FPIK ini juga merupakan Profesor aktif ke-192 di UB. Dia juga menjadi Profesor ke-351 dari seluruh Profesor yang telah dihasilkan oleh UB.
Membawa terobosan terbaru, penelitiannya tentang teknologi sinbiotik berbasis spora ini berhasil. Penelitian itu bermula dari tantangan dalam industri budidaya udang pada 1990-an, di mana akumulasi bahan organik sisa pakan menyebabkan peningkatan amonia nitrogen.
Dalam orasinya, Prof. Anik menjelaskan bahwa sinbiotik yang ditambahkan dalam pakan dapat menstabilkan kualitas air dan membantu sistem pencernaan.
“Dengan penerapan sinbiotik pada sistem budidaya bioflok, hasil penelitian menunjukkan penurunan signifikan kadar amonia nitrogen dari 1,6 menjadi 0,4 mg L-1,” ujar dia.
Kelebihan utama teknologi ini adalah kemampuannya menyimpan dalam jangka waktu lama, memberikan pakan tambahan dari penguraian bahan organik sisa pakan, serta membantu ikan dalam pencernaan pakan alami.
Teknologi sinbiotik berbasis spora menjadi solusi yang berpotensi meningkatkan produksi sektor budidaya ikan sebagai respons terhadap stagnasi perikanan tangkap. Profesor Anik meyakinkan bahwa inovasi ini dapat mengubah limbah pakan menjadi sumber pakan tambahan.
“Sehingga, tetap bisa menjaga kualitas air, dan merangsang pertumbuhan sektor perikanan,” ujar dia.
Prof. Dr. Eng. Donny Harisuseno, S.T., M.T. hadirkan pendekatan baru dalam pengelolaan limpasan air hujan. Sebagai Profesor aktif ke-23 di FT dan Profesor aktif ke-193 di UB, dia juga menjadi Profesor ke-352 dari seluruh Profesor yang telah dihasilkan oleh UB.
Konsep terbaru yang diusungnya adalah untuk mengatasi masalah limpasan air hujan di wilayah perkotaan. Pendekatannya, dikenal sebagai System Hybrid-G2I (Green-Gray Infrastructure), mengintegrasikan infrastruktur fisik drainase atau gray infrastructure dengan komponen lingkungan untuk meningkatkan ketangguhan dan fleksibilitas pengelolaan limpasan.
Dalam paparannya, Prof. Donny menyoroti kelemahan konsep pengelolaan limpasan konvensional yang lebih mengandalkan saluran fisik.
“System Hybrid-G2I, selain mendukung konservasi air, juga memiliki keunggulan dalam menjaga kualitas air tanah dan permukaan. Namun, tantangan yang dihadapi adalah penerapannya yang lokal dan bergantung pada ketersediaan ruang fisik di area perkotaan,” ujar dia.
Penelitiannya menjelaskan bahwa System Hybrid-G2I bisa menjadi alternatif solusi berkelanjutan untuk mengatasi permasalahan limpasan air hujan di wilayah perkotaan. Akan tetapi implementasinya memerlukan komitmen kuat dari pihak terkait.
“Keterlibatan komunitas dan pemerintah setempat diharapkan dapat memaksimalkan potensi konsep ini sebagai solusi terkini dalam mengelola sumber daya air,” lanjut dia.
Kunci dari berhasilnya System Hybrid-G2I memang masih terbatas pada ruang fisik perkotaan. Sehingga diperlukan kajian lebih lanjut dengan pemerintah terkait hal ini. Namun, apabila bisa diimplementasikan, maka kota tersebut tidak perlu khawatir soal kualitas air dan bisa tahan terhadap perubahan iklim. (mg2/bob)








