Kota Malang, blok-a.com – Di balik keheningan TPU Sukun, Kota Malang, terselip kisah sederhana tentang rezeki dan keikhlasan. Beberapa orang memilih menjadi pembersih makam untuk sekadar mengais rezeki melalui tangan para peziarah.
Salah satu pembersih makam di TPU Sukun, Saroni, mengatakan pekerjaan ini bukan sekadar mencari penghasilan, tetapi juga sebagai bentuk amal.
Saroni mengaku baru sekitar dua tahun terakhir menekuni pekerjaan tersebut. Sebelumnya, ia bekerja di pabrik batu permata yang memproduksi batu cincin.
“Dua tahun ini. Sebelumnya kerja pabrik batu cincin,” ujarnya saat ditemui di TPU Sukun, Kamis (19/3/2026).
Ia tak pernah merencanakan menjadi pembersih makam. Pekerjaan itu datang begitu saja saat ada orang yang memintanya merawat makam keluarga.
“Kebetulan rumah saya ada di dekat TPU, awalnya karena ada yang menyuruh. Kalau tidak diambil ya sayang, jadi saya jalani. Enggak menolak rezeki,” tambahnya.
Baginya, pekerjaan ini hanyalah kegiatan sampingan yang dilakukan dengan santai. Ia bahkan menyebutnya sebagai “iseng-iseng yang menghasilkan”.
“Iya, cuma iseng-iseng. Tapi bisa jadi rezeki,” ungkapnya.
Dalam praktiknya, Pak Saroni tidak mematok tarif. Ia menerima bayaran seikhlasnya dari keluarga peziarah yang menggunakan jasanya.
“Enggak mesti, seikhlasnya orang,” tuturnya.
Aktivitas bersih makam biasanya meningkat menjelang hari pasaran Jawa, terutama Jumat Legi. Dalam satu periode, ia bisa membersihkan sekitar 30 makam di area TPU Sukun.
“Biasanya menjelang Jumat Legi. Bisa sekitar 30 makam,” jelasnya.
Mayoritas makam yang dirawat berasal dari warga sekitar, khususnya wilayah Ciptomulyo dan Sukun. Meski terlihat sederhana, Pak Saroni memaknai pekerjaannya lebih dari sekadar mencari uang. Ia menganggap aktivitas tersebut sebagai bentuk amal.
“Kerjaan ini sama dengan amal. Datang rezeki ya diambil, kalau tidak ya bukan rezeki,” ucapnya.
Ia juga mengaku bersyukur karena tetap memiliki aktivitas dan penghasilan, dibanding hanya berdiam diri di rumah.
“Alhamdulillah, daripada di rumah diam saja. Di kuburan diam, siapa tahu ada rezeki dikasih orang,” pungkasnya.
Kini, di usianya yang sudah menjadi kakek dengan dua anak dan dua cucu, Pak Saroni tetap menjalani hari-harinya dengan sederhana, memadukan kerja, keikhlasan, dan rasa syukur dalam setiap langkahnya. (yog/bob)







