TPA Terancam Overload di 2029, DLH Kota Malang Hidupkan Kembali Bank Sampah Lewat Seminar

TPA Terancam Overload di 2029, DLH Kota Malang Hidupkan Kembali Bank Sampah Lewat Seminar
TPA Terancam Overload di 2029, DLH Kota Malang Hidupkan Kembali Bank Sampah Lewat Seminar (blok-a/Bob Bimantara Leander)

Kota Malang, blok-a.com – Dinas Lingkungan Hidup (DLH) Kota Malang menggelar Seminar Penguatan Bank Sampah dalam rangka memperingati Hari Ulang Tahun ke-112 Kota Malang, Senin (11/5/2026), di Malang Creative Center (MCC) lantai 5.

Kegiatan bertema “Malang Kota Bersih Menuju Adipura untuk Indonesia ASRI (Aman, Sehat, Resik, dan Indah)” ini diikuti sekitar 200 peserta yang mayoritas merupakan pengurus dan perwakilan Bank Sampah unit se-Kota Malang.

Kepala Bidang Persampahan DLH Kota Malang, Roni Kuncoro, mengatakan seminar ini digelar untuk menghidupkan kembali semangat pengelolaan sampah dari tingkat paling dasar, yakni melalui bank sampah di lingkungan masyarakat.

“Jadi kegiatan hari ini adalah Seminar Penguatan Bank Sampah. Temanya ‘Malang Kota Bersih Menuju Adipura untuk Indonesia Asri’. Jadi hari ini pesertanya adalah mayoritas pengurus perwakilan Bank Sampah unit se-Kota Malang, sejumlah kurang lebih 200 orang,” ujar Roni.

Dalam kegiatan tersebut, DLH menghadirkan dua narasumber, yakni Pembina Bank Sampah Wasto serta penggiat kampung sekaligus peraih Kalpataru, Bambang Irianto dari Kampung Glintung.

Menurut Roni, seminar ini bertujuan untuk mengaktivasi kembali bank sampah yang saat ini masih vakum maupun belum berjalan optimal agar kembali aktif dalam proses pemilahan dan pengurangan sampah.

“Jadi harapannya momen ini adalah untuk menguatkan lagi, membangkitkan lagi semangat, kemudian mengaktivasi Bank Sampah yang boleh jadi masih vakum atau mungkin masih belum aktif untuk lebih aktif lagi,” jelasnya.

Saat ini, jumlah nasabah Bank Sampah yang terdaftar mencapai sekitar 500, baik dalam bentuk kelompok maupun perorangan. Sementara unit yang masih aktif tercatat sekitar 300 unit.

Bank Sampah sendiri telah berdiri sejak tahun 2014 dan tersebar di berbagai wilayah Kota Malang, bahkan menjangkau wilayah Kota Batu, Kabupaten Malang, hingga Pasuruan.

Roni menyebut, jika seluruh unit dapat kembali aktif, sektor bank sampah diproyeksikan mampu mengurangi sampah hingga 10 sampai 20 persen sebelum masuk ke Tempat Pembuangan Akhir (TPA).

“Jadi harapan kita minimal dari sektor Bank Sampah sendiri bisa 10 sampai 20 persen. Karena di tahun 2029 kapasitas TPA ini sudah overload,” ungkapnya.

Saat ini, produksi sampah harian di Kota Malang mencapai sekitar 500 hingga 600 ton per hari. Karena itu, penguatan pengurangan sampah dari sumber dinilai menjadi langkah penting selain penggunaan teknologi pengolahan sampah.

Pembina Bank Sampah Malang, Wasto, menilai langkah DLH menggelar seminar ini menjadi momentum penting untuk membangkitkan kembali kesadaran masyarakat dalam memilah sampah dari rumah tangga.

Menurutnya, persoalan sampah menjadi tantangan besar bagi kota-kota besar karena kapasitas Tempat Pembuangan Akhir memiliki batas daya tampung.

“Di kota-kota besar itu problem yang paling harus diseriusi untuk diantisipasi problem yang akan menghantui adalah masalah sampah. Bagaimanapun, TPA itu punya daya tampung terbatas waktunya,” ujarnya.

Ia mengatakan pengurangan sampah dari tingkat rumah tangga menjadi solusi utama untuk memperpanjang usia TPA sekaligus membangun budaya peduli lingkungan di masyarakat.

Wasto mengungkapkan, dalam beberapa waktu terakhir perkembangan bank sampah sempat mengalami penurunan. Namun dalam satu bulan terakhir, tren mulai kembali meningkat.

“Akhir-akhir ini agak menurun, cuma satu bulan ini saya dengan Pak Rusman ini mencoba untuk menghidupkan kembali. Alhamdulillah tren dalam satu bulan ini unitnya naik, nasabahnya naik, potensi sampah menjadi naik,” katanya.

Menurutnya, apabila setiap RT, RW, hingga kelurahan memiliki bank sampah aktif, potensi pengurangan sampah yang masuk ke TPA bisa mencapai belasan hingga 20 ton per hari.

“Kalau dari sisi tonase itu bisa belasan atau 20-an ton per hari, itu pengurangannya,” jelasnya.

Selain soal pengurangan volume sampah, Wasto menilai manfaat terbesar dari bank sampah adalah tumbuhnya edukasi dan kesadaran masyarakat dalam mengelola sampah secara mandiri.

“Itu yang paling berharga dan paling berkesan itu adalah edukasi, kesadaran masyarakat untuk memanajemen dan mengelola sampah. Itu nilai menurut saya sangat tinggi,” pungkasnya.

Bagi masyarakat yang ingin membentuk unit Bank Sampah baru, Roni menyebut hal itu bisa dilakukan mulai dari skala kecil, bahkan hanya tiga hingga sepuluh orang dalam satu kelompok.

“Jadi tidak harus, bahkan dalam satu RT boleh lebih dari satu unit. Jadi unit ini 3 sampai 10 orang pun bisa jalan,” tutupnya. (bob)