Kabupaten Malang, blok-a.com – Berdasarkan informasi dari Badan Meteorologi Klimatologi dan Geofisika (BMKG) puncak musim kemarau diprediksi akan terjadi pada Agustus hingga September 2024. Warga Kabupaten Malang diimbau untuk mewaspadai bencana kekeringan yang kerap kali melanda.
Menurut data Badan Penanggulangan Bencana Daerah (BPBD) Kabupaten Malang 2023, terdapat di 21 desa pada 8 kecamatan yang mengalami krisis air bersih saat musim kemarau tahun lalu.
Delapan kecamatan tersebut diantaranya, Sumbermanjing Wetan (Sumawe), Kalipare, Donomulyo, Sumberpucung, Jabung, Singosari, Lawang dan Kromengan.
Kepala Bidang Kedaruratan dan Logistik BPBD Kabupaten Malang, Sadono Irawan menerangkan, pihaknya telah menetapkan status siaga darurat bencana kekeringan dan kebakaran hutan dan lahan (Karhutlah) di Kabupaten Malang.
“Kami tetapkan statusnya per 10 Juni hingga 30 Setember 2024. Semoga statusnya hanya siaga, artinya tidak sampai tanggap darurat,” ujar Sadono saat ditemui di ruang kerjanya, Jumat (6/7/2024).
Dari jumlah delapan kecamatan yang mengalami kekeringan pada tahun 2023 lalu, pihaknya juga memetakan wilayah tersebut masuk dalam rawan kekeringan.
“Walaupun nanti di perjalanan ada beberapa desa yang berkurang, seperti (prediksi) tahun kemarin ada Desa Kemiri dan Jabung yang tidak mengalami kekeringan karena sudah ada pipanisasi pengeboran segala macam. Tapi kita gak tau, apakah nanti kering lagi atau seperti apa,” sambungnya.
Sementara itu, sejauh ini belum ditemukan kasus kekeringan di Kabupaten Malang. Jika hal tersebut terjadi, maka status kesiapsiagaan akan naik ke status tanggap darurat.
Pihaknya juga mengaku telah melakukan koordinasi dengan 33 kecamatan. Sehingga, jika dimungkinkan ada kasus kekeringan maupun Karhutlah dapat segera dilaporkan ke DPBD Kabupaten Malang dan kemudian ditindaklanjuti.
“Cuma kemarin dari BMKG juga kemungkinan kekeringan tidak seekstrim tahun 2023 lau. Artinya, walaupun kemarau tapi masih ada curah hujan walaupun tidak tinggi,” jelasnya.
Kendati demikian, ia tetap menghimbau untuk masyarakat Kabupaten Malang agar lebih bijak menggunakan air bersih meskipun belum memasuki musim kekeringan.
“Sebetulnya ada banyak cara yang bisa dilakukan mitigasi, ada yang namanya panen air hujan. Jadi ketika hujan kita manahan air hujan, banyak yang bisa kita lakukan dengan memasukan air hujan itu dengan tandon, atau bikin sumur resapan, paling gak ada cadangan walupun itu sementara,” pungkasnya. (ptu)








